Logo Bloomberg Technoz

Obligasi pemerintah AS (Treasuries) dan dolar juga menguat pada Senin. Sementara itu, harga emas melanjutkan kenaikannya di awal perdagangan Asia, meski sejumlah analis memperingatkan potensi gelembung harga pada logam mulia tersebut.

Sentimen pasar turut didorong oleh harapan bahwa perang dagang AS–China akan mereda seiring rencana kedua negara untuk kembali ke meja perundingan. Presiden Donald Trump kembali menegaskan ancamannya untuk menaikkan tarif terhadap barang-barang China “jika tidak ada kesepakatan” sebelum 1 November, namun menekankan rencana pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping pekan depan.

Awal bulan ini, pasar sempat bergejolak setelah Trump mengancam akan memberlakukan tarif yang sangat tinggi, dengan alasan kebijakan ekspor China yang “bersifat permusuhan”. Harga kontrak berjangka kedelai menguat pada Senin karena para petani berharap perundingan baru dengan China dapat membuka kembali ekspor AS yang sempat terhenti.

Dalam perkembangan terpisah, Trump menandatangani kesepakatan dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese untuk memperluas akses terhadap mineral penting dan logam tanah jarang, sebagai upaya AS mengurangi ketergantungan pada pasokan dari China.

Di Asia, sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis Selasa meliputi ekspor Korea Selatan, pesanan alat mesin Jepang, dan pesanan ekspor Taiwan. Sementara pasar saham India libur.

Data Inflasi

Setelah tertunda akibat penutupan pemerintahan AS, Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) akan merilis data indeks harga konsumen (IHK) untuk September pada Jumat. Data yang semula dijadwalkan terbit 15 Oktober itu akan menjadi acuan penting bagi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menilai inflasi menjelang pertemuan kebijakan moneter pekan depan.

Menurut survei Bloomberg, inflasi inti — yang tidak memasukkan harga pangan dan energi — diperkirakan naik 0,3% untuk bulan ketiga berturut-turut, seiring efek kenaikan tarif impor yang mulai terasa di tingkat konsumen. Peningkatan bulanan tersebut akan menjaga inflasi inti tahunan di level 3,1%.

IHK AS. (Sumber: Bloomberg)

“Inflasi inti September kemungkinan sedikit melambat karena harga jasa yang menurun menutupi dampak kenaikan harga barang akibat tarif tambahan. Sementara itu, harga energi kemungkinan mendorong inflasi utama (IHK),” kata Oscar Munoz dari TD Securities.

Rick Gardner dari RGA Investments menambahkan bahwa data inflasi Jumat mendatang akan menjadi semakin penting di tengah “kekosongan data” akibat penutupan pemerintahan AS. Ia masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga pada Oktober dan menilai kinerja perusahaan teknologi besar akan menjadi ujian penting, terutama terkait sejauh mana investasi pada kecerdasan buatan (AI) telah berkontribusi terhadap laba.

“Kita melihat volatilitas musiman khas Oktober, tetapi gejolak kali ini relatif dangkal dibandingkan periode historis, karena pola pikir ‘beli saat harga turun’ tampaknya masih mendominasi,” ujar Gardner.

(bbn)

No more pages