Jensen Huang Bocorkan Keahlian Karyawan yang Dibutuhkan di Era AI
Farid Nurhakim
08 October 2025 06:05

Bloomberg Technoz, Jakarta - Peluang anak muda khususnya generasi Z (gen Z) untuk memperoleh pekerjaan kerap dipandang makin minim di tengah kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Namun CEO Nvidia, Jensen Huang menyebut terdapat ribuan pekerjaan untuk kawula muda, berkat pesatnya pertumbuhan pusat data.
Dia mengatakan bahwa gen Z hanya perlu menempuh sekolah kejuruan atau jalur keterampilan praktis. Selain itu, Jensen Huang membeberkan ada dua jenis pekerjaan yang bakal dibutuhkan ke depan yaitu teknisi listrik dan tukang kayu.
“Jika Anda seorang teknisi listrik, tukang ledeng atau tukang kayu, kita akan membutuhkan ratusan ribu orang untuk membangun semua pabrik ini,” kata Jensen Huang dikutip dari Channel 4 News di Inggris, Rabu (8/10/2025).
“Segmen keterampilan praktis di setiap perekonomian bakal mengalami lonjakan. Pertumbuhannya akan terus berlipat ganda setiap tahun,” imbuh dia.
Pernyataan Jensen Huang muncul seusai Nvidia mengumumkan pada September 2025 lalu bahwa perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) tersebut bakal menginvestasikan sebesar US$100 miliar untuk perusahaan pengembang bot percakapan (chatbot) ChatGPT, OpenAI.
Investasi setera ribuan triliun rupiah tersebut bertujuan guna membantu mendanai pengembangan pusat data berbasis prosesor AI Nvidia.
Menurut proyeksi dari perusahaan konsultan manajemen McKinsey, belanja modal global untuk data center dapat mencapai hingga US$7 triliun atau sekitar Rp116.004 triliun pada 2030 mendatang. Satu pusat data seluas 2,3 hektare bisa mempekerjakan sampai 1.500 pekerja konstruksi selama pembangunannya.
Para pekerja tersebut banyak yang berpenghasilan lebih dari US$100.000, ditambah lembur, dan tanpa memerlukan gelar sarjana. Pasca selesai dibangun, data center hanya membutuhkan sekitar 50 pekerja penuh waktu untuk memelihara fasilitas tersebut. Namun, setiap pekerjaannya mendorong 3,5 juta lapangan pekerjaan tambahan bagi perekonomian di sekitarnya.
Seruan Jensen Huang untuk lebih banyak teknisi listrik dan tukang ledeng sejalan dengan pandangannya bahwa gelombang peluang selanjutnya terletak pada sisi fisik teknologi, bukan software.
Saat ditanya awal tahun ini apa yang bakal Jensen Huang pelajari jika dirinya masih berusia 20 tahun, ia menjawab akan condong ke disiplin ilmu fisika. “Untuk Jensen muda berusia 20 tahun yang sudah lulus sekarang, dia mungkin akan memilih...lebih banyak ilmu fisika daripada ilmu software,” ujar dia.
Para CEO Ungkap Tenaga Kerja Terampil Langka di AS
Jensen Huang bukan satu-satunya CEO yang membunyikan alarm tentang kelangkaan tenaga kerja terampil. Awal 2025, CEO BlackRock, Larry Fink mengatakan kekhawatirannya kepada Gedung Putih dengan menyatakan bahwa deportasi tenaga kerja imigran, dikombinasikan dengan kurangnya minat di kalangan anak muda AS, menciptakan badai yang sempurna bagi pembangunan pusat data.
“Saya bahkan sudah memberi tahu anggota tim Trump bahwa kita akan kehabisan teknisi listrik yang kita butuhkan untuk membangun pusat data AI,” kata Fink di sebuah konferensi energi pada Maret tahun ini. “Kita tidak punya cukup tenaga.”
Tak hanya Fink, CEO Ford, Jim Farley pun menyuarakan kekhawatiran tersebut. Farley menunjukkan kesenjangan antara ambisi Washington untuk membawa kembali rantai pasok manufaktur ke dalam negeri (reshoring) dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan guna mewujudkannya.
“Saya pikir niatnya ada, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan ambisi itu,” kata Farley kepada Axios. “Bagaimana kita bisa memindahkan semua ini jika kita tidak punya orang untuk bekerja di sana?”
Menurut unggahan Farley di LinkedIn pada Juni tahun ini, AS sudah kekurangan 600 ribu pekerja pabrik dan 500.000 pekerja konstruksi. Meski demikian, Departemen Pendidikan AS telah memprioritaskan perluasan program keterampilan, dengan beberapa generasi Z sudah mulai menyadarinya.































