Logo Bloomberg Technoz

Indikator harga inti—yang juga mengecualikan energi—naik 2,5%, lebih rendah dari perkiraan kenaikan 2,9% para ekonom. Inflasi keseluruhan pun tercatat 2,5%. Indeks harga Tokyo kerap dijadikan indikator awal tren inflasi nasional.

Stabilnya inflasi ini kembali mengingatkan tentang volatilitas data, terutama karena kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk meringankan beban biaya hidup. Karena itu, satu set data saja tidak cukup untuk mengubah arah kebijakan BOJ.

Harga pangan tetap menjadi perhatian. Harga makanan olahan naik 6,9% pada September, melambat dari kenaikan 7,4% bulan sebelumnya. Meski menekan indeks, inflasi pangan diperkirakan berlanjut. Menurut Teikoku Databank, perusahaan makanan dan minuman besar Jepang berencana menaikkan harga lebih dari 3.000 produk pada Oktober, terbanyak sejak April.

Harga beras—bahan pokok yang turut mendorong biaya hidup—naik 46,8% dari tahun lalu, melambat dibanding lonjakan 67,9% pada Agustus. Ini menjadi perlambatan bulanan kelima. Laju kenaikan diperkirakan akan terus melemah dalam beberapa bulan ke depan, meski belum jelas apakah cukup untuk meredakan keresahan konsumen.

Tekanan biaya hidup juga berimbas ke politik. Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengumumkan pengunduran diri awal bulan ini setelah kehilangan dukungan di partainya akibat serangkaian kekalahan pemilu. Isu mahalnya biaya hidup menjadi faktor utama dalam hasil tersebut.

Lima kandidat kini bersaing menjadi pemimpin baru Partai Demokrat Liberal (LDP). Mereka semua berjanji akan mengambil langkah-langkah untuk meringankan beban rumah tangga. Pemilihan kepemimpinan dijadwalkan berlangsung 4 Oktober.

Sementara itu, dua anggota dewan BOJ, Naoki Tamura dan Hajime Takata, berbeda pendapat terhadap keputusan mempertahankan suku bunga kebijakan di level 0,5% pekan lalu. Perbedaan ini membuat pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada 30 Oktober sekitar 50%, lebih dari dua kali lipat dibanding awal bulan.

Mantan anggota dewan BOJ, Makoto Sakurai, mengatakan inflasi yang masih tinggi memberi ruang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga kapan saja. Pertanyaan utamanya, menurut dia, sejauh mana otoritas ingin menunggu data yang mencerminkan dampak tarif dari AS.

Di sisi lain, pasar properti Tokyo juga mencatat lonjakan harga. Di kawasan pusat ibu kota yang mencakup 23 distrik, harga kondominium bekas tipe keluarga naik 38% pada Agustus dibanding tahun lalu, menjadi ¥107 juta (sekitar US$719.680), menurut laporan Tokyo Kantei.

(bbn)

No more pages