Faktanya, energi terbarukan kini menjadi pilar utama ekonomi global, terutama di China. Menurut laporan terbaru lembaga riset Ember, pada 2024, 84% pertumbuhan permintaan listrik China dipenuhi oleh angin dan surya. Data BloombergNEF mencatat, China memiliki kapasitas energi angin lebih dari tiga kali lipat AS dan menjadi pemimpin dunia dalam instalasi energi bersih. Inggris juga mendapatkan hampir sepertiga listriknya dari tenaga angin, menjadikannya sumber energi utama negara itu.
“Pandangan Trump soal kebijakan energi Inggris sama sekali tidak kredibel, setara dengan klaimnya bahwa paracetamol bisa menyebabkan autisme,” ujar Tessa Khan, Direktur Eksekutif NGO Uplift yang berbasis di Inggris.
Trump juga menyebut “jejak karbon hanyalah tipuan yang dibuat oleh orang-orang dengan niat jahat.” Istilah tersebut sebelumnya dipopulerkan oleh perusahaan minyak BP Plc.
Serangan Trump bertolak belakang dengan sikap PBB yang menempatkan isu iklim sebagai agenda prioritas. “Hampir setiap pemerintah di dunia mengakui bahwa perubahan iklim bukan tipuan, melainkan tantangan utama,” kata Laurence Tubiana, CEO European Climate Foundation sekaligus salah satu perancang Perjanjian Paris 2015. “Berpura-pura sebaliknya hanyalah penyangkalan terhadap realitas.”
Pemerintahan Trump sendiri berupaya mengecilkan risiko perubahan iklim sembari meningkatkan produksi bahan bakar fosil di AS. Sejak Januari, pemerintahannya memecat ilmuwan pemerintah, membekukan atau membatalkan hibah riset, menghentikan studi iklim nasional, serta menurunkan laman resmi terkait pemanasan global.
Departemen Energi AS musim panas lalu bahkan merilis laporan yang menurut puluhan pakar menyesatkan sains iklim. Bulan ini, pemerintahan Trump juga memotong pendanaan proyek transportasi ramah lingkungan seperti jalur sepeda dan pejalan kaki, dengan alasan infrastruktur tersebut “tidak bersahabat” dengan mobil, salah satu penyumbang utama emisi karbon di AS.
Pidato Trump menegaskan pergeseran 180 derajat dari kebijakan iklim mantan Presiden Joe Biden, yang mendorong manufaktur hijau di dalam negeri. Dengan dukungan Kongres yang dikuasai Partai Republik, Trump sudah mencabut sebagian besar warisan kebijakan pendahulunya, termasuk pemotongan insentif pajak untuk kendaraan listrik serta energi angin dan surya.
Pidato tersebut juga menunjukkan upaya AS untuk menyingkirkan isu iklim sebagai prioritas global. Pemerintahan Trump menjadikan perjanjian dagang bergantung pada komitmen negara lain membeli bahan bakar fosil AS, dan menekan Badan Energi Internasional (IEA) terkait proyeksi puncak konsumsi minyak yang dianggap tidak sejalan dengan pandangan Washington.
Masih belum jelas apakah AS akan mengirim delegasi resmi ke KTT Iklim COP30 di Brasil. Trump sebelumnya kembali menarik AS dari Perjanjian Paris pada hari pertama ia menjabat kembali sebagai presiden. Menteri Energi Chris Wright hanya menyebut sedang mempertimbangkan untuk hadir “untuk berdialog.”
Sementara itu, China justru semakin memperkuat posisi sebagai pusat manufaktur teknologi hijau dan meningkatkan investasi energi bersih, termasuk di luar negeri, sekaligus mengambil peran penting dalam negosiasi iklim PBB.
“Para pemimpin dan eksekutif China pasti merasa heran dengan komentar Trump soal energi hijau,” ujar Li Shuo, Direktur China Climate Hub di Asia Society Policy Institute. “Mereka mungkin justru berharap AS terus berada di jalur itu. Artinya, satu pesaing besar berkurang bagi mereka.”
(bbn)





























