“Tambahan pasokan bahan baku yang dibutuhkan untuk B40 bukanlah jumlah kecil. Indonesia kemungkinan harus mengurangi ekspor dan memprioritaskan pasar domestik,” tulis laporan BMI, dikutip Senin (22/9/2025).
Selain itu, target pemerintah untuk menaikkan campuran biodiesel ke B50 pada 2026 dinilai penuh tantangan. Sebab, kebutuhan biodiesel untuk B50 diperkirakan mencapai 20,5 juta kl. Dari sisi bahan baku, B50 akan membutuhkan 18,8 juta ton CPO, atau tambahan lebih dari 5,5 juta ton dibandingkan 2024.
Meskipun pasokan sawit Indonesia secara teori mencukupi, pencapaian B50 akan menuntut pengurangan ekspor dalam jumlah besar. Kondisi ini, menurut BMI, akan memerlukan intervensi pemerintah yang signifikan untuk memprioritaskan pasokan biodiesel domestik dibanding ekspor.
Adapun, dampak dari kebijakan ini bukan hanya pada pasar domestik, tetapi juga pasar global. Penurunan ekspor sawit dari Indonesia yang merupakan produsen terbesar dunia, dapat mendorong harga minyak sawit internasional dan memengaruhi rantai pasok global.
Selain biodiesel, laporan itu juga mencatat tren peningkatan pemakaian etanol. Jumlah SPBU yang menawarkan bahan bakar campuran E5 naik dari 15 pada 2023 menjadi 119 pada Juni 2025. Namun, kontribusinya masih minim dibandingkan dengan total lebih dari 7.800 SPBU di Indonesia, dan pertumbuhannya diperkirakan tetap terbatas karena subsidi bensin.
BMI menilai, meskipun target B50 sulit tercapai pada 2026 tanpa tambahan kilang baru, kebijakan campuran biodiesel yang lebih ketat akan berdampak signifikan pada ekspor CPO Indonesia dan, pasar sawit global.
Evaluasi Dilakukan Pemerintah
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim permintaan biodiesel B40 kemungkinan besar akan melebihi kuota yang ditargetkan pemerintah pada tahun ini sebanyak 15,6 juta kl.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, meski permintaan di atas ekspektasi, pemerintah masih melakukan kajian atas keberlanjutan program mandatori biodiesel tersebut.
“Jadi kajian untuk biodiesel keberlanjutannya seperti apa, tetapi saat ini B40 kan sudah berlangsung. Waktu itu kan sudah ada penambahan penggunaan dari dana BPDP untuk insentif kan. Permintaannya tuh [naik] terus,” ujarnya ditemui di JCC, Rabu (17/9/2025).
Menindaklanjuti kenaikan permintaan B40 tersebut, Eniya mengatakan Kementerian ESDM juga baru saja menerbitkan surat keputusan menteri (kepmen) untuk penetapan volume biodiesel tersebut.
“Nah, berikutnya pencapaiannya itu kira-kira lebih dari target yang kita tentukan, jadi ada kemungkinan melebihi target. Jadi kita kan 15,6 [juta kl]. Nah ini perkiraan pada Desember, sudah ada permintaan untuk nambah,” kata Eniya.
Dia tidak mengelaborasi berapa persisnya kenaikan permintaan untuk suplai B40 tersebut. Akan tetapi, dia menyebut tambahan permintaan dari pelaku industri bervariasi antara 100.000—200.000 kl.
Eniya mengatakan saat ini Ditjen EBTKE masih mengevaluasi untuk menindaklanjuti tambahan permintaan biodiesel tersebut.
(yan)
































