Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, penurunan daya mesin akibat penggunaan biodiesel B50 diperkirakan mencapai 6,38% pada putaran maksimal dibandingkan dengan menggunakan solar murni. Sementara itu, biodiesel B45, diprediksi hanya sekitar 2%—5%.

Dengan begitu, Yannes memandang keunggulan utama B50 hanya terletak pada pengurangan emisi yang lebih besar saja.

Dia mengkalkulasi, B50 mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dan partikel berbahaya hingga 40%—50%. Sebaliknya, B45, hanya mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dan partikel berbahaya sekitar 35%—45%.

“Selain itu, B50 memanfaatkan lebih banyak minyak sawit lokal, mendukung ketahanan energi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil hingga potensi penghematan devisa yang signifikan sesuai proyeksi produksi biodiesel nasional,” ungkap Yannes.

Jadi Solusi

Anggota Pusat Studi Ketahanan Energi Universitas Pertahanan Akhmad Hanan meragukan pemerintah dapat menaikkan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50 pada awal 2026, sebab uji coba atau road test B50 baru saja dilakukan pemerintah.

Dengan begitu, wacana penerapan B45 dinilai menjadi opsi terbaik jika pemerintah tetap berambisi meningkatkan persentase campuran biodiesel pada tahun depan.

Akan tetapi, penerapan B45 dinilai berisiko tinggi sebab uji coba jalan atau road test dari bahan bakar solar yang mengandung campuran 45% bahan bakar nabati tersebut masih belum dilakukan pemerintah.

“B45 bisa menjadi kompromi—di satu sisi kadar biodiesel meningkat dari B40, di sisi lain memberi ruang bagi industri otomotif dan penyedia bahan bakar untuk beradaptasi bertahap. Namun memang, karena B45 sendiri belum diuji secara formal, ada ketidakpastian juga,” kata Akhmad.

Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan uji coba atau road test mandatori biodiesel B50 bakal memakan waktu 6 hingga 8 bulan, dan belum berjalan hingga awal Agustus 2025. B50 padahal ditargetkan meluncur pada 2026.

Dalam perkembangannya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang menunda implementasi mandatori biodiesel B50, yang semula ditargetkan mulai pada 2026, dan menggantinya dengan B45.

Akan tetapi, keputusan tersebut baru dapat ditentukan ketika uji coba atau road test biodiesel B50 telah dirampungkan. Dia memastikan kementerian sedang menjalankan uji coba tersebut dan sedang menunggu hasilnya.

“Kita sekarang sedang uji coba, sekarang kan B40 sudah berjalan, alhamdulillah bagus. Ke depan, kita akan dorong untuk di B50, tetapi sekarang kita lagi uji coba. Apakah B45 dulu baru B50, atau langsung? Nanti tunggu hasil uji cobanya,” kata Bahlil kepada awak media, di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Jumat (12/9/2025).

Bahlil menyatakan uji coba B50 yang dilakukan telah memasuki tahap ketiga, tetapi dia belum bisa mengungkapkan kapan proses road test tersebut dirampungkan.

Terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi tidak menampik selama ini pemerintah belum pernah melakukan uji coba maupun road test terhadap biodiesel B45. 

“B45 itu kita enggak pernah melakukan testing, tetapi ini ada kajian memang di segmen 5 juga. Jadi kita nunggu kajian juga. Kemarin kajian baru pralaporan. Kita masih kritisi banyak, karena asumsi-asumsi yang dipakai itu untuk kajian yang dilakukan oleh BPDP itu kurang, apa ya, mengambil angka-angkanya itu belum pas gitu,” ujarnya ditemui di JCC, Rabu (17/9/2025).

Untuk itu, Eniya mengaku Kementerian ESDM sedang menggandeng para pakar dari universitas, staf khusus, serta staf ahli untuk menguji performa B45.

Adapun, kata Eniya, beberapa parameter B45 yang juga tengah dikaji dan dikritisi oleh Kementerian ESDM mencakup besaran harga atau biaya minyak sawit sebagai bahan baku, kebutuhan insentif, pungutan ekspor, bea keluar, dan sebagainya.

(azr/wdh)

No more pages