Ukuran utama profitabilitas kilang dan kekuatan pasar bensin itu terus meningkat sejak libur Hari Buruh AS, yang menandai berakhirnya puncak musim berkendara awal September.
“Pasar bensin global sedang menikmati support yang tidak biasa untuk bulan September,” kata Ines Goncalves, analis riset utama bensin di Kpler.
Menurutnya, keuntungan dari mengolah minyak mentah menjadi bensin di Eropa Barat justru mencapai level tertinggi tahun ini pada awal September, alih-alih antara Mei dan Agustus yang biasanya menjadi puncak permintaan.
Gangguan tak terencana di Eropa, Afrika Barat, dan Timur Tengah sepanjang September hingga November kemungkinan menjadi pendorong kekuatan pasar bensin di kawasan Atlantik, kata Pamela Munger, kepala analisis pasar EMEA di Vortexa.
Namun, kilang juga mengubah hasil produksinya, memangkas output bensin untuk mengejar lonjakan profitabilitas solar, tambahnya.
“Lonjakan margin bensin belakangan ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap gangguan pasokan berkepanjangan, bahkan di pasar yang kelebihan pasokan,” ujarnya dalam riset.
Di Eropa barat laut, premi bensin terhadap minyak mentah tercatat sangat kuat untuk periode ini, menurut data General Index.
Selain banyaknya penutupan kilang, Eropa juga menghadapi perawatan fasilitas, sebagian terencana, sebagian tidak, termasuk gangguan berkelanjutan pada unit bensin utama di kilang raksasa Dangote, Nigeria.
Di saat yang sama, permintaan bensin di Eropa OECD, didorong peralihan dari mobil berbahan bakar diesel, telah melampaui rata-rata musiman lima tahun pada setiap bulan tahun ini, menurut data OilX.
“Secara musiman permintaan memang mulai turun di September, tetapi perawatan kilang justru meningkat secara global, dengan aktivitas besar di Eropa dan Timur Tengah,” kata Natalia Losada, analis di Energy Aspects.
“Pasar Timur Tengah sangat kuat sepanjang musim panas, menjadi penyalur bagi pasokan Eropa.”
Di Asia, ukuran utama profitabilitas kilang dari bensin RON-92 crack masih diperdagangkan di atas rata-rata lima tahun.
Sejumlah gangguan pada unit produksi bensin besar di kilang-kilang kawasan ini memperketat pasar Asia, menurut para trader.
Pertamina, pembeli bensin terbesar di Asia Tenggara, juga kerap mengajukan tender bensin lebih lama dari biasanya tahun ini, menurut data yang dihimpun Bloomberg, menambah dorongan harga di tengah gangguan pasokan.
Pembatasan impor bensin Indonesia pada awal tahun ini ikut memicu lonjakan permintaan akhir musim panas, seiring negara menghadapi potensi kekurangan bahan bakar.
“Pasar bensin global telah memasuki periode di mana godaan untuk menyebut level puncak cukup besar, namun skenario bearish tidaklah sederhana,” tulis analis senior Sparta Commodities, Philip Jones-Lux, dalam riset Selasa.
Margin blending yang menarik di Eropa serta terbatasnya peluang ekspor ke AS atau Amerika Latin biasanya akan memicu pelemahan tajam pada spread, kata Jones-Lux.
“Tapi dengan begitu banyak kapasitas yang saat ini offline, waktu koreksi itu jauh lebih sulit diprediksi,” ujarnya.
(bbn)






























