Logo Bloomberg Technoz

Menurut dia, kapasitas awal pembangkit nuklir SMR bisa dipatok mencapai 70 MW.  Kemudian nantinya dapat ditingkatkan secara bertahap dengan estimasi pembangunan sekitar 4 tahun.

“Dan kalau kita mau naikkan lagi skalanya, dia seperti cartridge yang bisa ditambahkan dari 70 MW menjadi 140 MW, 140 MW menjadi 220 MW],” kata dia.

Kendati demikian, dia menegaskan, SMR belum dapat beroperasi pada 2029 mendatang. “[SMR] belum mulai [di 2029],” tutur Airlangga saat dimintai konfirmasi. 

Di sisi lain, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN menargetkan pembangkit nuklir bisa mulai commercial operation date atau COD pada 2032.

BATAN dan BRIN telah melakukan survei dan studi tapak untuk PLTN di sejumlah lokasi, dengan 28 wilayah potensial. Dari 28 wilayah potensial itu bisa dibangun PLTN dengan kapasitas mencapai 70 GW.

Rekomendasi Pakar

Dihubungi terpisah, pakar listrik menyarankan Indonesia bisa menggunakan teknologi nuklir dari 2 negara berbeda untuk mengembangkan PLTN skala kecil, yang ditarget beroperasi pada 2030 sebesar 500 MW. Selain Rusia, Indonesia bisa bekerja sama dengan China.

Pakar listrik dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB) Nanang Hariyanto mengatakan teknologi reaktor modular kecil dari China cukup canggih.

Negeri Panda juga disebut memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan keuangan yang baik dalam mengembangkan nuklir di Tanah Air.

“China itu punya teknologi, punya orang [SDM], finance, yang mengerjakan ada. Kalau Rusia teknologinya canggih, tetapi belum tahu finance-nya. Ini masalah geopolitik saja,” kata Nanang.

Di sisi lain, Nanang mengatakan, Indonesia dapat menggunakan dua tempat atau tapak yang berbeda untuk mengembangkan teknologi SMR.

“Artinya kalau ada tipe SMR floating, dapat di dock ke pantai sehingga menyatu dengan darat untuk dioperasikan,” ujarnya.

(mfd/naw)

No more pages