Juli menambahkan, kinerja perseroan juga masih dipengaruhi tren harga batubara yang menurun, meski dalam beberapa pekan terakhir sempat terjadi kenaikan. Selain itu, laporan keuangan kuartal II disebut belum sepenuhnya mencerminkan kontribusi akuisisi bisnis waste management di Singapura yang rampung pada akhir Maret 2025.
Sebagai gambaran, pada semester I-2025, pendapatan konsolidasian TOBA tercatat US$172,2 juta, turun dari US$248,7 juta pada periode yang sama 2024. Penurunan ini terutama dipicu oleh turunnya volume penjualan batubara dari 1,7 juta ton menjadi 0,7 juta ton, serta harga jual rata-rata yang merosot dari US$83 per ton menjadi US$52,9 per ton.
Sejalan dengan tren tersebut, kontribusi segmen pertambangan dan perdagangan batubara turun signifikan. Segmen ini mencatatkan pendapatan US$91,6 juta atau sekitar 53% dari total pendapatan perseroan, jauh lebih rendah dibandingkan kontribusi 82% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, bisnis pengelolaan sampah mulai memberikan kontribusi positif dengan pencatatan pendapatan sebesar US$59,6 juta dan EBITDA mencapai US$10 juta hingga akhir Juni 2025.
(dhf)
































