Logo Bloomberg Technoz

Seiring berjalannya waktu optimisme pelaku pasar memudar. Sell order tercatat mencapai US$2,7 miliar atau setara dengan 24.000 BTC. Ini berasal dari seorang pembeli besar. Situasi yang crash mendadak pada kripto terbesar di dunia, dilaporkan Decrypt, Senin (25/8/2025).

Aset aseli kripto kemudian mengalami likuidasi lebih dari US$500 juta, data CoinGlass mencatat. 

Penurunan dari puncak tertinggi harga juga disinyalir merupakan buah dari sejumlah investor kakap “whale” yang mengambil untung karena target harga telah berhasil ditembus, terang Boyapati, seorang software engineer dan ahli kripto serta ekonomi, di X.

Penurunan harga, yang diakibatkan oleh aksi jual masif para ‘whale’ “diperlukan untuk monetisasi penuh Bitcoin,”  nilai Vijay.

Kini prediksi harga berpeluang dapat kembali memantul ke kisaran US$113.500 – US$114.000 “pasca momentum jangka pendek mereda,” kata Alex Krüger, seorang trader kripto dan pendiri Aike Capital dalam unggahannya di platform yang dulu bernama Twitter.

Sementara itu, altcoin Ethereum ETH juga terkoreksi 3,4% dibandingkan hari Minggu dan bertahan di level US$4.593. Ether sempat menjadi bahan omongan karena melonjak ke rekor tertinggi untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun.

Pada 23 Agustus 2025 siang Ethereum bertahan di US$4.866,73 melampaui rekor sebelumnya US$4.866,40 (Rp 79,302 juta) yang dicatatkan pada November 2021 atau meroket lebih dari 40% sepanjang tahun ini. Kinerja Ether minggu lalu bahkan mengalahkan Bitcoin.

BTC dan ETH tercatat sama-sama reli pada Jumat setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell membuka peluang pemangkasan suku bunga pada September saat berbicara di Simposium Jackson Hole bank sentral AS.

“Bagi pasar kripto, reaksinya cepat dan positif,” ujar Katalin Tischhauser, kepala riset Sygnum Bank, dilansir dari Bloomberg News. “Dalam siklus bull market berbasis likuiditas saat ini, investor cepat menangkap sinyal dovish, dan komentar Powell memberikan hal itu.”

(far/wep)

No more pages