"Bahan nabati ini mempunyai nilai fungsi fisiologis positif sebagai zat antioksidan, anti kanker dan anti bakteri. Melalui riset, potensi ubi ungu dapat diaplikasikan sebagai zat aktif antikorosi di bidang industri melalui adaptasi fungsi mekanisme zat antiradikal bebas,” jelas Gadang.
Kulit Buah Kelengkeng dan Buah Naga
Riset juga menemukan bahwa limbah kulit buah kelengkeng dapat berfungsi sebagai zat antikorosi dengan efisiensi hingga 93% pada konsentrasi 500 ppm, menjadikannya solusi tambahan dalam pembersihan pipa migas. Inovasi serupa dilakukan terhadap kulit buah naga, yang mampu menekan kerusakan korosi hingga 87,73%.
Daun Talas-Teh Putih-Tembakau
Tak hanya dari buah, kata Gadang, potensi zat alami juga datang dari daun tembakau. Melalui riset kolaboratif yang dilakukan bersama timnya, ekstrak tembakau terbukti dapat menurunkan kerusakan korosi hingga 80% pada injeksi optimal 60 ppm dalam media simulasi production water flowline crude oil.
Bahan alami lain seperti daun talas dan daun teh putih juga menunjukkan hasil signifikan. Ekstrak daun talas mampu menekan laju korosi hingga 72% dalam aplikasi industri, serta hampir 80% pada penyimpanan larutan asam sulfat. Sementara itu, ekstrak daun teh putih terbukti efektif mengurangi kerusakan korosi hingga 96% pada konsentrasi rendah, yakni 80 ppm.
“Fakta riset ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi solusi antikorosi ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya mendukung ketahanan industri, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan,” tegas Doktor bidang Teknik dari Graduate School of Engineering, Osaka Prefecture University, Jepang ini.
(dec/spt)






























