Logo Bloomberg Technoz

Waspada Keamanan Siber di Era Agentic AI

Farid Nurhakim
21 August 2025 14:45

Ilustrasi kejahatan di ruang digital seperti scam, kekerasan dan pemerasan seksual atau sextortion. (Dok: Bloomberg)
Ilustrasi kejahatan di ruang digital seperti scam, kekerasan dan pemerasan seksual atau sextortion. (Dok: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perusahaan keamanan siber global yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Palo Alto Networks mendorong keamanan siber secara proaktif. Hal ini di tengah meningkatnya perkembangan Agentic AI atau sistem kecerdasan buatan yang mampu mengeksekusi tugas yang diberikan secara otonom.

Meskipun 70% eksekutif yang disurvei dalam riset Internasional Business Machines Corporation (IBM) 2024 menilai otonomi ini sebagai hal yang krusial, Palo Alto Networks memandang bahwa kemampuan Agentic AI untuk secara proaktif mengakses Application Programming Interface (API), mengeksekusi kode, dan terus belajar pun menghadirkan risiko siber yang signifikan.

Sistem kecerdasan buatan tersebut yang bekerja layaknya karyawan digital adaptif dengan teknologi ini ternyata menyimpan risiko besar. Country Manager Indonesia Palo Alto Networks, Adi Rusli memaknai bahwa salah satu takdir digital Indonesia akan ditentukan oleh bagaimana kita menyikapi dan mengadopsi AI. 

Agentic AI bukan sekadar peningkatan teknologi; ini adalah perubahan paradigma,” kata Country Manager Indonesia Palo Alto Networks, Adi Rusli dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (20/8/2025).

“Para ‘karyawan digital’ yang bekerja secara otonom ini menawarkan kekuatan luar biasa, namun juga membawa risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk membuka potensi mereka dan mengamankan masa depan digital Indonesia, keamanan harus menjadi fondasi dari kepercayaan dan kendali.”

Menurut Palo Alto Networks, independensi penuh sistem ini dapat membuat kecerdasan buatan secara tak sengaja mengakses data sensitif, berinteraksi dengan sistem tidak aman, atau dimanipulasi oleh peretas. Kondisi ini makin mengkhawatirkan karena pengawasan teknologi informasi (IT) yang minim, terutama di tengah pesatnya adopsi digital di Tanah Air.

Palo Alto Networks melanjutkan bahwa perkembangan terkini menjadi makin relevan, sejalan dengan pesatnya digitalisasi di Indonesia, yang menjadikannya salah satu negara pengadopsi teknologi utama di Asia Tenggara.


Ambil contoh kecerdasan buatan generatif atau AI generatif (AGI) dan sistem agentic (agentic systems) dengan cepat terintegrasi ke dalam industri seperti keuangan, manufaktur, dan pemerintahan, mengubah pola hidup dan cara bekerja masyarakat Indonesia.

Temuan ini diperkuat oleh studi Palo Alto Networks 2025 State of Generative AI, yang menunjukkan preferensi pekerja Indonesia pada platform dan aplikasi GenAI yang mendorong produktivitas. Situasi ini dinilai makin menegaskan besarnya tanggung jawab yang menyertai integrasi teknologi secara masif dalam pelbagai aspek kehidupan.