Meski begitu, Budi menuturkan tarif resiprokal yang dikenakan AS terhadap Indonesia masih lebih kompetitif dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya khususnya di kawasan Asean.
“Kalau kita lihat kita ini dapat tarif resiprokal 19%. Artinya, ini tarif yang cukup bagus atau tarif yang kecil di negara-negara Asean, termasuk beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand,” tuturnya.
Hingga saat ini, kata dia, proses negosiasi tarif AS—Indonesia masih terus berjalan. Budi menargetkan proses negosiasi akan rampung sebelum 1 September 2025.
“Dan sekarang proses negosiasi juga masih berjalan sebenarnya. Mudah-mudahan sebelum 1 September sudah selesai,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah tengah menegosiasikan tarif lebih rendah dari 19% untuk sejumlah komoditas dalam negeri kepada AS.
Menurutnya, hal ini dapat diupayakan lantaran adanya beberapa komoditas yang tidak dapat diproduksi di AS.
"Perundingan masih akan terus berlangsung untuk bicara detail teknis karena masih ada beberapa kepentingan yang dijanjikan dan akan ditindaklanjuti yaitu terkait dengan beberapa pokok yaitu Indonesia akan diberikan juga tarif yang lebih rendah 19% untuk beberapa komoditas," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (24/7/2025).
"Nah yang dikatakan adalah komoditas sumber daya alam yang tidak diproduksi oleh Amerika Serikat seperti kelapa sawit, kopi, kakao, produk agro dan juga produk mineral lainnya," kata Airlangga.
(ell)





























