Untuk menjaga keekonomian proyek, INCO bersama mitra strategis seperti Huayou dan GEM, sepakat melakukan pengembangan teknologi dan efisiensi biaya agar kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (Capex) bisa ditekan.
“Improvisasi supaya nanti Capex yang kita habiskan di smelter itu bisa lebih kecil nilainya. Biar sisi keekonomian akan lebih bertambah,” kata Andaru.
INCO saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas HPAL sebagai bagian dari strategi hilirisasi di Indonesia.
Tiga proyek jumbo ini memiliki nilai investasi mencapai US$8,5 miliar.
Proyek Bahodopi menjadi yang paling siap untuk segera beroperasi dalam waktu dekat, dengan target mulai produksi tahun ini.
Setelah itu, proyek Pomalaa dijadwalkan menyusul pada kuartal II/2026, sedangkan Sorowako akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi Vale Indonesia. Ketiga tambang tersebut sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan.
Dalam pengembangan hilir, Vale bermitra dengan sejumlah pemain global untuk membangun fasilitas HPAL.
Untuk proyek Pomalaa, Vale telah bekerja sama dengan Huayou dan Ford dalam pembangunan smelternya. Sementara untuk Bahodopi, proyek dilakukan bersama GEM, dan di Sorowako, Vale kembali berkolaborasi dengan Huayou.
(dhf)






























