"Harapan kami dengan penggalakan regulasi importasi ini, mungkin bisa membantu para produser hilir ini bisa mendapatkan pasar pengganti di dalam negeri, at least sepadan dengan angka yang hilang ketika implementasi dari penerapan tarif Trump ini," jelasnya.
Banjir Impor
Melati menuturkan perseroan saat ini hanya menguasai 46% pangsa pasar domestik, sementara sisanya dikuasai oleh aluminium impor. Dia berharap angka tersebut bisa naik menjadi 48% pada tahun ini.
Dia memperkirakan permintaan domestik aluminium dalam 30 tahun mendatang bisa naik sekitar 600%, terutama didorong oleh transisi energi melalui energi baru terbarukan (EBT). Terlebih, setiap 1 megawatt (MW) panel surya memerlukan aluminium sekitar 21 ton.
Kemudian, perusahaan juga melihat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik, yakni sebanyak 18% dari bobot battery pack berbahan dasar aluminium.
"Ke depannya kami hadir dengan rencana konkret untuk bisa mengurangi ketergantungan impor tersebut dan dapat menciptakan rantai pasok aluminium yang lebih memiliki dan juga terintegrasi," imbuhnya.
Biaya Naik
Di tingkat global, perusahaan raksasa pertambangan Rio Tinto Group terkena imbas tarif Trump tersebut.
Dia mengatakan tarif AS atas aluminium buatan Kanada menghasilkan biaya kotor lebih dari US$300 juta pada semester I-2025, sebuah indikasi lain tentang bagaimana agenda perdagangan Presiden Donald Trump mengguncang rantai pasokan logam.
Korporasi penambang terbesar kedua di dunia ini juga merupakan produsen aluminium terbesar di Kanada, dan menjual sebagian besar logam tersebut di AS.
Perusahaan tambang tersebut mengatakan telah menanggung biaya kotor sebesar US$321 juta terkait dengan tarif AS atas aluminium, tetapi menambahkan bahwa "sebagian besar" dari biaya tersebut telah dikurangi dari premi yang lebih tinggi pada penjualan di AS.
Industri logam sedang menyesuaikan diri dengan gejolak perdagangan yang dipicu oleh Trump tahun ini.
Trump mengenakan biaya impor sebesar 25% untuk baja dan aluminium pada Maret, sebelum menaikkannya menjadi 50% pada Juni. Rencana tarif 50% untuk tembaga juga memicu kekacauan pasar, tetapi Pemerintah AS sedang menjajaki kemungkinan langkah-langkah untuk logam lainnya.
Rio mengatakan premi aluminium di pasar AS—yang dibayarkan di atas harga tukar—dengan cepat beradaptasi dengan tarif awal 25%, tetapi belum sepenuhnya mengompensasi tingkat 50% pada akhir kuartal II-2025.
Perusahaan mengirimkan sekitar 723.000 ton aluminium ke AS pada semester pertama—setara dengan sekitar tiga perempat dari produksinya dari Kanada.
Kontrak berjangka yang melacak harga aluminium di AS telah menunjukkan biaya yang lebih tinggi bagi pembeli Amerika.
Kontrak yang terkait dengan premi logam yang dikirim ke Midwest telah meningkat hampir tiga kali lipat tahun ini hingga mencapai hampir 66 sen per pon, tertinggi sejak 2013.
(mfd/wdh)






























