Di sisi lain, impor diperkirakan tumbuh sebesar 0,88% (yoy) tetapi turun sebesar 4,93% (mom), mencerminkan normalisasi setelah lonjakan impor mesin bulan sebelumnya. Selain itu, kontraksi berkelanjutan dalam aktivitas industri, di mana PMI manufaktur hanya sebesar 47,4, berkontribusi terhadap penurunan impor bulanan.
Secara tahunan, impor masih mencatat pertumbuhan positif karena efek dasar (baseline effect) yang rendah. Data impor terbaru dari mitra dagang utama Indonesia, yang mewakili 69% dari total impor, tetap positif dengan pertumbuhan dua digit yang kuat dalam impor dari China dan Taiwan pada Mei 2025.
Dikonfirmasi secara terpisah, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2025 tetap mencatat surplus sekitar US$3,2 miliar, ditopang oleh pertumbuhan ekspor sebesar 4,2% (yoy) dan impor sebesar 2% (yoy).
Kinerja ini mencerminkan normalisasi aktivitas ekspor-impor pasca-Idulfitri, sekaligus mulai meredanya efek front loading yang sempat terjadi pada bulan sebelumnya sebagai antisipasi atas potensi kebijakan tarif lanjutan dari pemerintahan Trump.
“Dari sisi ekspor, permintaan terhadap komoditas utama seperti batu bara, CPO, dan logam dasar masih menopang kinerja, sementara impor meningkat terbatas terutama pada barang modal dan bahan baku, meski harga minyak global yang melemah turut menahan tekanan nilai impor,” ujar Hosianna.
Kepala Ekonom Bank Pertama Josua Pardede memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia akan kembali mencatatkan surplus pada Mei 2025, dengan estimasi surplus meningkat signifikan menjadi US$2,29 miliar dibandingkan surplus tipis sebesar US$158,8 juta pada April 2025.
Josua mengatakan kondisi ini didorong oleh dua faktor utama, yaitu normalisasi aktivitas perdagangan pascalibur Idulfitri dan membaiknya kondisi perdagangan global seiring meredanya ketegangan perang dagang, khususnya setelah tercapainya kesepakatan antara AS dan China.
"Pascalibur Idulfitri, aktivitas ekspor Indonesia biasanya mengalami penguatan kembali seiring pulihnya operasional sektor riil dan industri, sehingga ekspor diproyeksikan meningkat sebesar 11,76% secara bulanan pada Mei 2025 setelah sempat turun tajam sebesar 10,77% pada bulan sebelumnya," ujar Josua kepada Bloomberg Technoz, Jumat (27/6/2025).
Secara tahunan, pertumbuhan ekspor masih positif meskipun melambat, yakni 3,84% dibanding 5,76% pada April 2025. Kondisi ekspor yang lebih baik ini juga tercermin dari kenaikan permintaan China terhadap produk Indonesia, yang pada Mei 2025 meningkat sebesar 1,8% secara bulanan dan 10,22% secara tahunan, berbalik dari kontraksi yang terjadi pada April 2025.
Sementara itu, impor pada Mei 2025 diperkirakan akan mengalami normalisasi, tumbuh moderat hanya 1,49% secara bulanan, jauh lebih rendah dibandingkan lonjakan 8,8% pada bulan sebelumnya akibat aktivitas impor yang dipercepat (front loading) terkait antisipasi eskalasi tarif.
Secara tahunan, pertumbuhan impor juga melambat menjadi 7,69% dibandingkan 21,84% pada bulan sebelumnya. Normalisasi impor ini terkait erat dengan meredanya kecemasan pasar seiring menurunnya ketidakpastian tarif, terutama setelah AS dan China berhasil mencapai kesepakatan. Hal ini tercermin pula dari ekspor China ke Indonesia yang menurun tajam, dari pertumbuhan bulanan 26,04% pada April menjadi kontraksi sebesar 9,28% pada Mei.
Per Senin (30/6/2025) pagi, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 18 ekonom/analis memperkirakan ekspor mengalami kontraksi atau tumbuh negatif sebesar 1,8% (yoy).
Sementara itu, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 17 analis/ekonom memperkirakan impor Indonesia tumbuh 0,9% (yoy) pada Mei.
Meski ekspor turun, neraca perdagangan Indonesia tetap diperkirakan mengalami surplus. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 16 ekonom/analis memperkirakan neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 2,4 miliar pada Mei.
Jika terwujud, maka jauh lebih tinggi ketimbang April yang ‘hanya’ surplus US$159 juta.
(lav)






























