Logo Bloomberg Technoz

Hingga saat ini, pelanggan yang menggunakan PLTS atap mencapai 10.632 pelanggan. Dari jumlah pelanggan tersebut terbanyak dari sektor rumah tangga atau sebesar 63%. Sementara itu, dari sisi kapasitas terbanyak menggunakan PLTS atap dari sektor industri sebanyak 72%. 

Wildan menjelaskan, dari sisi geografis, wilayah paling banyak memasang PLTS atap di Jawa, Bali, dan Sumatra karena infrastruktur yang mendukung dan kesadaran lingkungan yang lebih tinggi.

"Akan tetapi, jangan dilupakan Indonesia bagian timur, Sulawesi dan Papua mulai tumbuh melalui pendekatan PLTS off grid dan hybrid utntuk daerah terpencil,” tuturnya.

Wildan menuturkan kebijakan menggunakan PLTS ditegaskan dalam RUPTL PLN 2025—2034 yang baru saja diluncurkan bulan lalu.

Lapangan Kerja

Tidak hanya membuka peluang yang besar untuk meningkatkan penggunaan PLTS, tetapi juga menciptakan lapangan kerja hijau atau green jobs dengan skala besar.

“Khusus PLTS diperkirakan dapat menciptakan 350.000 pekerjaan, sektor energi baru terbarukan [EBT] serapan tenaga kerja tertinggi,” ucapnya.

Dalam RUPTL PLN Tahun 2025—2034, target pengembangan PLTS di Indonesia mencapai 17,1 gigawatt (GW). PLTS juga akan berkontribusi paling besar terhadap produksi listrik berbasis EBT yang ditarget mencapai 61% atau 42,6 GW dari total target penambahan pembangkit.

Target PLTS dalam RUPTL terbaru naik signifikan dibandingkan dengan target dalam RUPTL 2021—2030, karena kontribusi PLTS hanya sebesar 4.680 MW atau 12% dari total kapasitas listrik EBT baru sebesar 40,6 GW.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menjelaskan pengembangan pembangkit EBT dirancang menjangkau seluruh wilayah Indonesia untuk mewujudkan ketahanan energi nasional selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

“Indonesia memiliki potensi EBT besar, tersebar, dan beragam. Untuk itu, kita pastikan pengembangan EBT dilakukan sesuai potensi lokal dan kebutuhan di setiap wilayah. Dari Sumatra hingga Papua kita dorong agar semua wilayah tumbuh dengan energi bersih,” ujar Bahlil usai mengumumkan RUPTL 2025—2034, Senin (26/5/2025).

PLTS mendominasi pengembangan pembangkit di wilayah dengan potensi radiasi matahari yang cukup tinggi seperti Jawa, Madura, dan Bali (Jamali), serta kawasan timur Indonesia meliputi Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Di Jamali, penambahan kapasitas EBT mencapai 19,6 GW yang ditopang oleh PLTS sebesar 10.932 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) sebesar 5.377 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 2.503 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Air atau Mini Hidro (PLTA/M) sebesar 432 MW, serta bioenergi sebesar 399 MW.

Untuk regional Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara mencapai 2,3 GW. Meskipun skalanya lebih kecil namun proyek ini strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Komposisi kapasitasnya mencakup PLTS sebesar 1.470 MW, PLTP sebesar 332 MW, PLTA/M sebesar 179 MW, bioenergi sebesar 141 MW, PLTB sebesar 140 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) sebesar 40 MW.

Selain itu, wilayah dengan potensi aliran sungai besar seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi lebih banyak mengembangkan PLTA.

Di Sumatra akan dibangun 9,5 GW pembangkit EBT dengan kapasitas PLTA/M sebesar 4.940 MW, PLTP sebesar 2.017 MW, PLTS sebesar 1.606 MW, PLTB sebesar 590 MW, serta pembangkit listrik skala kecil seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebesar 250 MW dan bioenergi sebesar 78 MW.

Selanjutnya, rencana penambahan pembangkit EBT di Kalimantan sebesar 3,5 GW, dengan kapasitas PLTA/M sebesar 1.533 MW dan PLTS sebesar 1.524 MW. Wilayah ini juga mengembangkan PLTN sebesar 250 MW, bioenergi sebesar 80 MW dan PLTB sebesar 70 MW.

Untuk Sulawesi, akan dibangun pembangkit EBT dengan kapasitas 7,7 GW terdiri dari PLTA/M sebesar 4.606 MW, PLTS sebesar 1.530 MW, PLTB sebesar 1.010 MW, PLTP sebesar 305 MW, dan bioenergi sebesar 236 MW.

(mfd/wdh)

No more pages