Logo Bloomberg Technoz

MGBKI: Kematian Dokter Internship Alarm Kegagalan Sistem

Dinda Decembria
04 May 2026 10:01

Ilustrasi kedokteran dan perawatan kesehatan dengan bantuan teknologi. (Dok: Bloomberg)
Ilustrasi kedokteran dan perawatan kesehatan dengan bantuan teknologi. (Dok: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketua Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) Prof. Budi Iman Santoso menyampaikan peristiwa wafatnya dokter internship di Jambi tidak boleh dipandang sebagai kasus individual semata, melainkan harus menjadi peringatan serius bagi sistem pendidikan kedokteran dan layanan kesehatan secara keseluruhan.

“Peristiwa meninggalnya dokter ini tidak boleh dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan harus ditempatkan sebagai alarm keras terhadap kemungkinan adanya kegagalan sistem dalam tata kelola pendidikan kedokteran, supervisi klinis, keselamatan kerja, dan perlindungan peserta pendidikan,” kata Prof. Budi dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (4/5).

Menurut MGBKI, peserta pendidikan kedokteran—termasuk dokter internsip, residen, dan peserta program klinik lainnya—tidak boleh diperlakukan sebagai tenaga kerja murah yang dibebani tanggung jawab pelayanan tanpa perlindungan yang memadai.


“Peserta pendidikan kedokteran bukan tenaga kerja murah yang dapat dibebani tanggung jawab pelayanan tanpa perlindungan, supervisi, dan jaminan keselamatan yang memadai,” tegasnya.

Majelis menekankan bahwa setiap kejadian kritis, termasuk kematian peserta pendidikan dalam tugas, harus diperlakukan sebagai potensi kegagalan sistem hingga terbukti sebaliknya. Karena itu, tidak boleh ada praktik menyalahkan korban (victim blaming), intimidasi, maupun upaya menutup-nutupi informasi.