Logo Bloomberg Technoz

Smelter hidrometalurgi menyerap nikel kadar rendah atau limonit untuk menghasilkan produk turunan berupa mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

“Sekarang kita mempunya teknologi untuk memprosesnya; untuk mengekstrak bijih nikel agar bisa digunakan dalam baterai. Sebanyak 99,7% kita bisa mengekstraknya. Jadi sekarang industrinya sudah berjalan di Sulawesi,” kata Luhut.

Masalah Morowali

Bagaimanapun, Luhut tidak menampik masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pemerintah dalam hal membenahi hilirisasi industri nikel. Hal ini khususnya untuk kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang banyak melibatkan investor China.

“Kita punya masalah di Morowali, tetapi kita akan membenahinya. Saya katakan kepada investor [yang masuk ke Morowali], jika kamu tidak perbaiki, saya akan tutup. Saya beri peringatan 1, peringatan 2, lalu saya tutup industri kamu. Saya juga informasikan juga kepada kolega saya di China,” kata Luhut.

Permaslaahan yang dimaksud Luhut terutama berkaitan dengan aspek environmental, social, and governance (ESG) di kawasan industri Morowali.

“Jika Anda tidak comply dengan standar internasional, [pihak] yang akan disalahkan adalah China dan Indonesia. Dan kita tidak mau menjadi korban dari investasi ini.”

KawasanIndonesia Morowali Industrial Park./ dok. Bloomberg

Untuk itu,  dia berharap pelaku industri nikel nasional dapat membentuk sebuah standar ESG yang selaras dan dapat diterima oleh pakem internasional juga.

“Jadi ini bukan proses yang mudah. Saya rasa sekarang justru makin sulit dengan adanya situasi geopolitik. Akan tetapi, kita bisa bekerja sama, bertukar pikiran, dan bertukar best practices. Dengan demikian, semua negara berkembang dapat memiliki poin referensi tentang bagaimana kita membangun kebijakan nasional terkait dengan mineral kritis.”

Untuk diketahui, akhir-akhir ini telah terjadi  fenomena pemangkasan sementara sebagian lini produksi smelter pirometalurgi, tidak hanya di Morowali, sebagai respons dari tren penurunan harga nikel dan permintaan baja nirkarat.

Ketua Umum Indonesia Mining and Energy Forum (IMEG) Singgih Widagdo mengatakan permintaan offtaker terhadap komoditas turunan nikel yang dihasilkan smelter pirometalurgi tengah merosot.

“Benar memang terjadi penurunan produksi, bahkan bukan saja di Morowali. Kondisi ini sangat jelas karena demand sedang turun dan bersamaan raw material, harga nikel premium, dinilai cukup mahal. Alhasil, smelter melakukan pengurangan produksi, termasuk mengendalikan stok yang dinilai cukup besar,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (5/6/2025).

Selain itu, sebut Singgih, fenomena pemangkasan sementara atau shutdown sebagian lini produksi smelter nikel untuk bahan baku baja nirkarat di Tanah Air juga dipicu oleh kontraksi industri di negara importir, China, yang mengakibatkan penurunan permintaan.

Jatuhnya permintaan dari China terbaca dari hasil Purchasing Manufacture Index (PMI) China pada Mei yang bertengger di zona kontraksi 48,30. Bahkan, PMI China sampai akhir 2026 diproyeksikan sebatas 51 dan 2027 sebesar 50,70.

“Dengan kondisi seperti ini, jelas bahwa pemerintah harus benar-benar memperhitungkan antara besaran produksi dengan nilai serapan dan hilirisasi smelter,” kata Singgih.

Kendati demikian, Singgih masih optimistis industri hilir nikel di Tanah Air akan tetap berjalan dengan baik ke depannya dan tidak mengarah pada krisis atau bahkan gulung tikar.

Menurutnya, disrupsi pada perminatan dan suplai merupakan kondisi wajar yang biasa terjadi dalam dinamika pasar komoditas, menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi berbagai negara.

“Sebaiknya juga, pemerintah harus mendorong industri semifabrikasi dan fabrikasi agar output hilirisasi nikel juga banyak terserap di dalam negeri,” tutur Singgih.

(wdh)

No more pages