Logo Bloomberg Technoz

Menurut data Kementerian ESDM, realisasi ekspor batu bara per April 2025 telah mencapai 160 juta ton. Torehan ekspor itu minus 6,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di angka 171 juta ton.

Sementara itu, realisasi wajib pasok batu bara domestik turut mencatatkan tren koreksi sampai Maret 2025. Kementerian ESDM membeberkan realisasi DMO batu bara per kuartal I-2025 sebesar 12 juta ton, atau minus 25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di angka 16 juta ton.

“Tapi memang kondisinya kalau menurut saya kalau bicara HBA juga enggak pas sebenarnya, karena toh nyatanya DMO-nya juga turun,” kata dia.

Lonjakan pertumbuhan produksi batu bara China. (Bloomberg)

Di sisi lain, dia berharap kinerja ekspor dan pasokan domestik untuk batu bara itu bisa kembali pulih pada kuartal berikutnya.

“Tapi kita lihat nanti tiga sampai empat bulan ke depan apakah itu akan bisa mengubah proyeksi kita atas penjualan, baik itu ekspor maupun DMO,” kata dia.

Sebelumnya, pengusaha tambang batu bara menilai mandatori penggunaan HBA untuk kegiatan ekspor rawan berdampak pada makin turunnya minat pembelilan komoditas energi fosil tersebut oleh negara tujuan utama, seperti China dan India.

Plt Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia/Indonesian Coal Mining Association (APBI/ICMA) Gita Mahyarani menjelaskan, saat ini saja, kedua negara tersebut sudah mulai mengurangi permintaan impor batu bara dari Tanah Air dan menggenjot produksi dalam negeri mereka sendiri.

Dengan adanya aturan baru yang mewajibkan penjulaan batu bara Indonesia mengacu pada HBA, para importir di luar negeri pun akan membutuhkan waktu lagi untuk menyesuaikan kontrak transaksi mereka dengan aturan baru dari Pemerintah RI.

“Kondisi market lagi turun ini yang kita khawatirkan justru [membuat]  mereka mengalihkan [permintaan] ke tempat lain. Walaupun kita masih kita masih percaya bahwa orang akan mencari batu bara Indonesia,” jelasnya saat dihubungi, dikutip Senin (3/3/2025).

Harga batu bara di China./dok. Bloomberg

Menurut catatan APBI/ICMA, volume ekspor batu bara RI ke China yang sekitar 300 juta ton per tahun sejatinya hanya mencakup 5% dari kebutuhan domestik Negeri Panda. 

Angka 5% tersebut sangat minor bagi China, yang juga sedang menggenjot produksi batu bara dalam negerinya untuk sumber energi. Bahkan, China telah bertransformasi untuk meningkatkan infrastur pembangkit listrik berbasis batu baranya.

“Jadi mereka [China] bilang, 'Ya sudah daripada kita diimpor, kita tekan saja, kita pakai yang dalam negeri'. Itu sudah kejadian sebetulnya, with or without Indonesia punya ketentuan ini [HBA untuk kegiatan ekspor],” kata Gita.

Diprotes China

Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batubara China sebelumnya melaporkan beberapa perusahaan China mungkin akan berusaha untuk membatalkan atau merundingkan ulang kontrak jangka panjang yang telah disepakati akibat penentuan HBA sebagai standar harga ekspor batu bara Indonesia.

Dikutip dari Bloomberg News, Fenwei Energy Information Service Co dalam sebuah catatan mengatakan kebijakan HBA tersebut secara signifikan menaikkan harga batu bara Indonesia, dan hal itu dapat menghapus keuntungan perdagangan dan menghambat pembelian dari pembeli China.

“Salah satu masalahnya adalah harga batu bara sering berubah, tetapi HBA hanya diperbarui sebulan sekali. Indonesia mencoba mengurangi keterlambatan tersebut dengan mengubah jadwal tersebut, memperbarui [HBA] pada tanggal 1 dan 15 setiap bulan ke depannya, menurut peraturan pemerintah,” katanya.

Pembeli di China disebut menolak keras langkah Indonesia, karena produksi dan impor domestik yang tinggi selama bertahun-tahun, dikombinasikan dengan permintaan yang lemah selama musim dingin, telah menyebabkan banyak orang memiliki persediaan yang melimpah.

“Setidaknya satu pembeli batu bara utama telah menghentikan impor spot bahan bakar asing karena mencoba menurunkan persediaan,” tuturnya.

(naw)

No more pages