Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Pimpin Penguatan di Asia Meski Harga Surat Utang Tertekan

Redaksi
22 May 2025 13:55

Ilustrasi Rupiah. (Dimas Ardian/Bloomberg)
Ilustrasi Rupiah. (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah memimpin penguatan mayoritas mata uang di Asia sampai lewat tengah hari ini di pasar spot kendati harga surat utang negara cenderung tertekan akibat sentimen negatif pasar obligasi global, di tengah reli indeks saham yang berlanjut.

Sentimen negatif dari buruknya laporan kinerja neraca pembayaran kuartal 1-2025 yang dilansir hari ini, sedikit mengurangi laju penguatan rupiah. Pada pukul 13:32 WIB, rupiah bergerak di kisaran Rp16.325/US$, mencerminkan penguatan 0,43% dibanding kemarin. 

Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level terkuat hari ini dalam intraday trading di level Rp16.295/US$ pagi tadi, sebelum akhirnya mengurangi penguatan pasca data kinerja neraca pembayaran dan transaksi berjalan pada kuartal pertama tahun ini, mencatat defisit.


Pada kuartal 1-2025, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit sebesar US 0,8 miliar. Transaksi berjalan (current account) juga defisit sebesar US$ 177 juta, lebih kecil dibanding kuartal sebelumnya sebesar US$ 1,12 miliar. Namun, angka defisit current account kuartal satu itu lebih besar ketimbang prediksi pasar yang memperkirakan hanya ada defisit US$ 132 juta.

Pada saat yang sama, laju indeks saham masih bertahan di zona hijau di tengah tekanan yang melanda sebagian bursa ekuitas di Asia yang terseret sentimen Wall Street. IHSG melanjutkan penguatan dengan saham perbankan jadi motor, naik 0,48% sejauh ini.