Tren sebaliknya terjadi di pasar surat utang RI. Mengacu data OTC Bloomberg, sebagian besar tenor SUN tertekan harganya, tecermin dari kenaikan tingkat imbal hasil. Yield 2Y naik sedikit jadi 6,245%, sedangkan tenor 5Y naik 3,3 bps jadi 6,504% dan tenor 10Y naik 1,8 bps jadi 6,846%.
Tekanan harga surat utang tersebut terutama karena sentimen negatif yang melanda pasar obligasi global dengan kejatuhan harga surat utang AS, US Treasury, serta kemerosotan surat utang Jepang (JGB) hingga yield-nya menyentuh level tertinggi sejak penerbitan lebih dari 25 tahun silam untuk tenor 30 tahun.
Rupiah telah menguat 1,68% sepanjang Mei ini dan masih terlihat stabil meski Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan, juga ketika selisih imbal hasil investasi dengan Amerika Serikat kian menyempit seiring lonjakan yield US Treasury akibat gelombang 'Sell America'.
Kinerja neraca pembayaran
Pagi tadi, Bank Indonesia mengumumkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia periode kuartal I-2025. NPI mengalami defisit, demikian pula transaksi berjalan alias current account.
Defisit NPI mencapai US$ 0,8 miliar. Jauh memburuk ketimbang kuartal sebelumnya yang masih membukukan surplus US$ 7,9 miliar.
Defisit yang melanda NPI juga terjadi pertama kali sejak terakhir terjadi pada kuartal II tahun lalu.
NPI terbagi menjadi 2 pos besar. Pertama, transaksi berjalan (current account), yang mencerminkan aliran valas dari ekspor-impor barang dan jasa. Pos ini pada kuartal 1-2025 menatat defisit hingga US$ 0,2 miliar, setara 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Neraca perdagangan barang masih mencatat kenaikan surplus disumbang oleh perdagangan nonmigas. "Ekspor non-migas menurun sejalan dengan perlambatan ekonomi global dan harga komoditas. Sementara itu, impor non-migas turun lebih dalam khususnya pada kelompok bahan baku dan penolong," demikian dilansir dari laporan BI.
Akan tetapi, terjadi peningkatan di defisit neraca jasa, sejalan dengan penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran imbal hasil investasi portofolio.
Kedua, transaksi modal dan finansial. Pada kuartal 1-2025, pos ini juga mencatat defisit sebesar US$ 0,3 miliar.
"Investasi langsung tetap membukukan surplus sebagai cerminan dari persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik yang tetap terjaga. Investasi portofolio juga meningkat, terutama dipengaruhi aliran masuk modal asing pada surat utang domestik," lanjut laporan BI.
Akan tetapi, investasi lainnya mencatat defisit dipengaruhi oleh penurunan penarikan utang pemerintah dan swasta serta peningkatan investasi swasta pada beberapa instrumen finansial luar negeri.
(rui)






























