Logo Bloomberg Technoz

Penjualan juga mengalami lonjakan signifikan. Pada kuartal I-2025, NICL membukukan pendapatan sebesar Rp543,91 miliar, naik 365,68% dibandingkan Rp116,79 miliar pada kuartal I-2024. 

Lonjakan ini terutama ditopang oleh meningkatnya volume dan harga jual nikel yang berhasil diserap pasar, seiring tren permintaan global terhadap logam dasar tersebut.

Namun, lonjakan harga saham yang tidak lazim membuat BEI menetapkan saham NICL dalam kategori Unusual Market Activity (UMA). Tak lama berselang, BEI menghentikan sementara perdagangan saham NICL di pasar reguler dan pasar tunai mulai sesi I pada Jumat, 16 Mei 2025.

Terkait keputusan tersebut, Direktur PAM Mineral lainnya, Rony Permadi Kusuma, menyayangkan langkah suspensi yang dinilai terlalu cepat dan minim dialog. 

“Kami berharap sebelum suspensi dilakukan, kami diberikan ruang untuk memberikan penjelasan terlebih dahulu, mohon jangan langsung disuspensi,” ujarnya. 

Berdasarkan catatan perdagangan, saham NICL telah meroket 211,76% dalam sebulan terakhir dan mencatat kenaikan hingga 307,69% sejak awal tahun.

(dhf)

No more pages