Basem Naim, pejabat senior Hamas, mengatakan bahwa kelompok penguasa Gaza yang didukung Iran tersebut tidak mengetahui adanya diskusi mengenai pemindahan warga Palestina ke Libya.
"Warga Palestina sangat mengakar di tanah air mereka, sangat berkomitmen pada tanah air dan mereka siap berjuang sampai akhir dan mengorbankan apa pun untuk mempertahankan tanah mereka, tanah air mereka, keluarga mereka, dan masa depan anak-anak mereka," tutur Naim menjawab pertanyaan dari NBC News.
"[Palestina] adalah satu-satunya pihak yang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan bagi warga Palestina, termasuk Gaza dan warga Gaza."
Perwakilan pemerintah Israel menolak berkomentar.
Libya dilanda ketidakstabilan akibat faksi-faksi politik yang saling bertikai selama hampir 14 tahun sejak perang saudara meletus di negara tersebut dan diktator lama, Moammar Gadhafi, digulingkan. Kekuasaan negara ini sedang diperebutkan oleh dua pemerintahan, satu di barat dipimpin oleh Abdul Hamid Dbeibah dan satu lagi di timur dipimpin oleh Khalifa Haftar.
Pemerintah Dbeibah tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Tentara Nasional Libya pimpinan Haftar juga tidak membalas permintaan komentar yang telah diajukan.
Mantan pejabat AS, narasumber NBC News, membeberkan berapa banyak warga Palestina di Gaza yang secara sukarela pindah ke Libya masih menjadi pertanyaan. Salah satu ide yang dibahas oleh para pejabat pemerintah ialah memberikan insentif kepada warga Palestina, seperti perumahan gratis atau bahkan uang saku.
Rincian tentang kapan atau bagaimana rencana relokasi warga Palestina ke Libya diimplementasikan masih belum jelas. Upaya ini bahkan kemungkinan besar akan menghadapi hambatan yang signifikan.
Rencana ini akan memakan biaya yang tak sedikit, juga tidak jelas bagaimana Trump akan membiayainya. Sebelumnya, AS mengklaim negara-negara Arab akan membantu membangun kembali Gaza setelah perang berakhir, tetapi mereka mengkritik ide Trump untuk merelokasi warga Palestina secara permanen.
Menurut mantan pejabat AS tersebut, di mana tepatnya warga Palestina akan dimukimkan di Libya belum ditentukan. Pejabat AS sedang mempertimbangkan berbagai pilihan untuk menampung mereka dan setiap cara potensial untuk mengangkut mereka dari Gaza ke Libya—melalui udara, darat, dan laut—sedang dipertimbangkan.
(ros)
































