Logo Bloomberg Technoz

"Saya menganggap tidak perlu menjelaskan bahwa ini semua omong kosong tak berdasar dan saya hanya tertawa," katanya. Ia juga mengungkap jika  ini bukan kali pertama sang istri mempercayai hal-hal mistis. Sebelumnya, ia sempat konsultasi dengan peramal dan sempat percaya pada ramalan-ramalan serupa.

Pengacaranya menambahkan, "Klien saya tidak bersalah, dan bukti dari kecerdasan buatan seperti ini jelas tidak bisa diterima secara hukum."

Pengacara juga mengisyaratkan kemungkinan gugatan balik untuk hak asuh kedua anak mereka, yang masih di bawah umur, sembari menyebut, kliennya curiga ada alasan pribadi lain di balik tindakan sang istri, dan AI hanya dijadikan pembenaran.

Tasseografi dalam Era Digital

Membaca ampas kopi atau dikenal sebagai tasseografi, merupakan tradisi lama yang telah berakar sejak zaman Kesultanan Ottoman. Namun di era digital, kebiasaan ini berevolusi. Bukan lagi peramal yang membaca cangkir, melainkan algoritma AI.

Aplikasi seperti Read My Turkish Coffee kini memungkinkan pengguna mengunggah foto ampas kopi dan menerima "ramalan" secara otomatis. Namun insiden ini memunculkan pertanyaan besar, seberapa jauh sebaiknya kita mempercayai hasil AI, terutama untuk keputusan penting seperti perceraian?

Kasus ini secara tak langsung mencerminkan fenomena baru di mana teknologi artificial intelligence yang seharusnya menjadi alat bantu, justru mulai menggantikan pertimbangan pribadi dan rasionalitas manusia. Dari ramalan nasib hingga nasihat hubungan, AI kian dipercaya sebagai penengah, bahkan dalam urusan rumah tangga.

Saat kopi yang biasa digunakan untuk menyegarkan pikiran kini malah menimbulkan ketegangan emosional. Pertanyaannya pun muncul, apakah saatnya kita berhenti menyerahkan keputusan besar pada algoritma dan mulai kembali berbicara satu sama lain?

(prc/wep)

No more pages