Logo Bloomberg Technoz

ESDM Yakin Filipina Setujui Aliansi Nikel, Meski Sempat Resisten

Mis Fransiska Dewi
14 May 2025 12:10

Bijih nikel olahan disimpan di pabrik konsentrat nikel Forrestania Cosmic Boy./Bloomberg-Ron D'Raine
Bijih nikel olahan disimpan di pabrik konsentrat nikel Forrestania Cosmic Boy./Bloomberg-Ron D'Raine

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis Filipina kali ini akan menyetujui pembentukan aliansi nikel, setelah sempat skeptis dengan wacana Indonesia membuat perserikatan sejenis OPEC di sektor nikel guna mengoordinasikan pasokan global.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Julian Ambassadur Shiddiq mengatakan Filipina menunjukkan sikap resisten terhadap pembentukan aliansi nikel yang diusulkan Indonesia karena beberapa alasan strategis dan struktural yang berkaitan dengan kondisi domestik dan kepentingan ekonominya.

Dia memerinci lima alasan resistensi Filipina antara lain; kekhawatiran terhadap kenaikan harga produk jadi, ketergantungan pada ekspor bijih nikel mentah, keterbatasan infrastruktur dan energi, pengaruh kelompok kepentingan dalam politik, dan ketidakpastian pasar global dan surplus pasokan.


Menurut Julian, dengan perkembangan pasar komoditas nikel global akhir-akhir ini, Filipina telah menunjukkan adanya perubahan arah kebijakan dengan meningkatkan kapasitas pengolahan nikel dalam negeri dengan rencana pembangunan smelter baru di dalam negerinya dan menghentikan ekspor mineral bijih. 

“Saya yakin mereka [Filipina] akan mempertimbangkan pembentukan aliansi ini,” kata Julian kepada Bloomberg Technoz, Rabu (14/5/2025). 

Proyeksi surplus pasar nikel dunia./dok. Bloomberg