Yildirim berpikir ia dapat membuat aset tersebut menguntungkan dengan meningkatkan operasi, dan awalnya berfokus pada produk dengan kandungan nikel yang lebih tinggi daripada nikel kasar China.
Ia memperkirakan harga nikel akan pulih dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
“Kami ingin memasuki pasar nikel saat orang-orang keluar,” kata pria berusia 65 tahun itu dalam sebuah wawancara di kantornya di Istanbul. "Akhirnya akan muncul dan menemukan keseimbangan."
Upayanya dalam nikel juga terjadi pada saat logam-logam penting semakin menjadi sorotan karena negara-negara Barat memandang pasokan sebagai masalah keamanan nasional, terutama karena transisi energi global memicu kekhawatiran akan potensi kekurangan di masa mendatang.
China adalah pemain kunci di pasar nikel, baik melalui industri dalam negerinya sendiri maupun investasi oleh perusahaan-perusahaannya di tempat-tempat seperti Indonesia.
(bbn)































