Vietnam berencana untuk mengirim delegasi lain ke AS akhir pekan ini yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Ho Duc Phoc.
“Vietnam menyesalkan keputusan Amerika Serikat untuk memberlakukan bea masuk terhadap ekspor Vietnam ke AS,” kata juru bicara kementerian luar negeri Pham Thu Hang dalam sebuah pernyataan menanggapi pertanyaan Bloomberg.
Perdana Menteri Pham Minh Chinh, yang pada hari Kamis lalu mengatakan bahwa tarif tersebut “tidak sejalan dengan hubungan baik antara kedua negara,” memerintahkan sebuah gugus tugas dibentuk untuk memberikan respons cepat.
AS merupakan pasar terbesar Vietnam. Penerapan tarif pajak baru ini bisa berdampak pada tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi ambisius Vietnam, di mana tahun ini ekonomi ditargetkan tumbuh 8%. Pham Minh Chinh mengatakan bahwa target pertumbuhan masih belum berubah.
Menurut laporan terbaru dari Kantor Perwakilan Dagang AS, tarif pajak impor rata-rata tarif Vietnam adalah 9,4%, produk utama AS yang diekspor ke Vietnam dikenakan tarif pajak impor 15% atau lebih rendah, sehingga pada kenyataannya, produk kena pajak Vietnam jauh lebih rendah daripada 90% atau 46% yang dihitung, kata kementerian keuangan Vietnam di situs webnya.
“Kami tahu bahwa akan ada dialog dan negosiasi yang berkelanjutan,” ungkap Adam Sitkoff, direktur eksekutif Kamar Dagang Amerika di Hanoi. “Jika negara-negara dapat menemukan cara untuk membuat kesepakatan dengan Presiden Trump, maka saya pikir Anda akan melihat perubahan.”
(bbn)





























