Menyitir data Badan Pusat Statistik (BPS), distribusi dan pertumbuhan industri pengolahan pada 2024 adalah 18,98% dan 4,43%.
"Lalu pertanyaan berikutnya, manufaktur seperti apa yang harus kita galakan untuk Indonesia agar bisa sejajar dengan Korea, Jepang, dan China? mereka biasanya mengandalkan dua jenis produk manufaktur, otomotif dan elektronik," ujarnya.
Namun, ketiga negara tersebut tentu sudah unggul dalam kedua sektor tersebut. Sehingga, Indonesia perlu mempercepat prioritas ketiga yakni penghiliran atau hilirisasi.
"Mengapa hilirisasi penting? Itu bisa jadi sumber reindustrialisasi kita dengan catatan orientasi kita di hilirisasi itu harus menciptakan nilai tambah setinggi-tingginya," ujarnya.
Di sisi lain, investasi juga menjadi komponen penting mendukung pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lapangan pekerja dan menyediakan peluang bagi bisnis.
Bambang menyoroti pertumbuhan investasi yang hanya 5% pada 2024. Padahal, Korea Selatan mampu mencatat pertumbuhan dobel digit.
BPS mencatat komponen Pembantukan Modal Tetap Bruto (PMTB) untuk distribusi dan pertumbuhan masing-masing 29,15% dan 4,61% pada 2024.
"Pada dasarnya, pemerintah perlu menyediakan karpet merah untuk semua orang. Setiap orang yang memiliki modal, setiap orang yang memiliki ide untuk menciptakan bisnis di Indonesia, dan yang lebih penting, lapangan kerja," ujarnya.
(lav)





























