Meski ada efek negatif terhadap persepsi investor global terhadap startup Indonesia, Darryl melihat ini sebagai kesempatan untuk mendorong transparansi dan tata kelola perusahaan yang lebih baik.
"Kalau ini enggak pernah kejadian, mungkin enggak pernah ada pertanyaan ini, media juga enggak pernah cover, ya kita mungkin melihat sisi positifnya aja, dari sini bisa dibawa kemana, dan harusnya generasi-generasi berikutnya akan menjadi generasi yang lebih baik," pungkasnya.
Sebelumnya, hasil penyelidikan internal mengungkap kemungkinan praktik manipulasi keuangan di eFishery. Laporan awal menunjukkan bahwa perusahaan tersebut menggelembungkan pendapatan dan laba sejak awal berdiri, dengan mencatatkan kerugian total sebesar US$152 juta (sekitar Rp2,47 triliun).
Lebih lanjut, laporan setebal 52 halaman dari FTI Consulting mengungkap bahwa dalam sembilan bulan pertama 2024, eFishery melaporkan keuntungan sebesar US$16 juta (sekitar Rp260 miliar), padahal sebenarnya perusahaan mengalami kerugian US$35,4 juta (sekitar Rp576 miliar).
Tak hanya itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa manajemen eFishery menggelembungkan pendapatan hingga hampir US$600 juta dalam periode yang sama. Dengan manipulasi tersebut, lebih dari 75% angka yang dilaporkan diduga palsu.
Penyelidikan ini dilakukan setelah seorang pelapor rahasia melaporkan dugaan manipulasi data keuangan kepada salah satu anggota dewan. Laporan yang kini telah beredar di kalangan investor juga menyebut bahwa perusahaan yang didukung oleh investor besar seperti SoftBank Group Corp dan Temasek Holdings Pte ini mencatatkan angka penjualan alat pemberi makan ikan sebanyak 400 ribu unit, padahal jumlah sebenarnya hanya sekitar 24 ribu unit.
(prc/del)




























