Logo Bloomberg Technoz

Bos LPS Ingatkan Bankir: Jangan Malas Salurkan Kredit

Redaksi
29 February 2024 12:40

Karyawan merapihkan uang rupiah di salah satu bank di Jakarta, Selasa (16/1/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah di salah satu bank di Jakarta, Selasa (16/1/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, para bankir di Indonesia perlu didesak untuk lebih rajin menyalurkan kredit ke sektor riil. Pertumbuhan kredit yang bagus bisa mendorong perekonomian agar berputar lebih kencang, di mana Indonesia sejatinya berpeluang meraih pertumbuhan ekonomi di atas 5% tahun ini.

Saat ini, kondisi likuiditas di perbankan masih cukup memadai untuk bisa merealisasikan pertumbuhan kredit lebih tinggi. Rasio loan to deposit ratio (LDR) perbankan sejauh ini masih ada di kisaran 85%. Angka itu masih lebih rendah dibandingkan rata-rata LDR 10 tahun terakhir 93,9%. Pada saat yang sama, penempatan perbankan di surat utang dan sekuritas bank sentral masih begitu besar.

“Bankir-bankir ini harus didesak untuk menyalurkan kredit. Mereka biasanya kalau ada instrumen berbunga cukup dengan risiko rendah mereka taruh di sana. Ke depan ini harus diubah. Uang tidak boleh lagi nongkrong di investasi yang tidak produktif. Para bankir harus dipaksa berpikir untuk dirinya sendiri dan secara bersamaan mendorong ekonomi kita," kata Purbaya dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2024 di Jakarta, Kamis (29/2/2024).

Kekeringan pendanaan untuk sektor riil dan konsumsi masyarakat yang melemah seharusnya bisa diatasi dengan adanya intervensi dari pemerintah. Pernyataan ini berdasarkan pengalaman Indonesia ketika menghadapi Covid-19. Pada 2020 kredit perbankan tumbuh lambat, konsumsi lambat. Perbankan semakin banyak menaruh dananya di Bank Indonesia (BI) untuk memburu margin yang bagus. Namun kemudian pemerintah melakukan intervensi dengan menyuntikkan dana ke sistem perbankan.

Pertumbuhan Kredit Bank dan DPK Perbankan (Asfahan/Bloomberg Technoz)

“Dalam kondisi itu perbankan terpaksa harus menyalurkan kredit ke masyarakat sebab bila dana tak disalurkan bank harus membayar bunga deposito. Itu jadi biaya bagi mereka," kata Purbaya.