Logo Bloomberg Technoz

Pada sesi 2 perdagangan IHSG makin dalam tertekan dengan posisi 6.666,28 atau turun 120,6 poin (1,81%). Penurunan terdapat sempat berada pada posisi Rp 6.660,45. Transaksi saham hingga kini telah mencapai Rp 7,7 triliun.

Pelemahan nilai tukar rupiah menghadapi dolar AS terus tertekan (Bloomberg)

Empat emiten perbankan kakap mengalami penurunan nilai tertinggi. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 120 poin ke posisi Rp 4.710. Saham T Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang siang ini akan menggelar RUPS Tahunan ada di posisi Rp 10.000 atau turun 350 poin.

Dua emiten bank lain, PT Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan pelemahan atas saham 150 poin ke posisi Rp 8.400, sementara saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 225 poin ke posisi Rp 8.775.

Laju pasar saham seolah melupakan rebound yang terjadi pada Senin (13/3/2023) kemarin, dimana terjadi kenaikan 0,3% ke level 6.783,8. Posisi senin asing mengakumulasi beli bersih (net buy) Rp 29,5 miliar.

Sejak gempita sentimen SVB di pasar saham dalam negeri, pekan ini IHSG diperkirakan mengalami limited downside. Secara teknikal, seperti disampaikan Mirae Asset Sekuritas Indonesia, akan terjadi koreksi terbatas di pasar modal Indonesia.

“Terlihat strong support area antara 6,621 – 6,632 dan resistance area sementara 6,797 – 6,804. Indikator MFI optimized, indikator RSI optimized dan W%R optimized sudah berada di oversold area dengan potensi koreksi makin terbatas. Dari sebaran volume juga terlihat masih banyak berada di atas level saat ini. Hal ini juga mengindikasikan kecenderungan untuk kembali bergerak naik dalam waktu dekat juga terbuka,” tulis Mirae.

Rully menambahkan, pelaku pasar berharap data neraca perdagangan Indonesia masih tetap solid surplus. Kepercayaan pasar ini terjadi karena ekspor nonmigas yang masih tinggi meski angkanya realtif akan lebih rendah, menjadi US$ 3,2 miliar dibandingkan posisi Januari US$ 3,87 miliar.

Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg yang melibatkan 24 institusi memperkirakan ekspor pada Februari 2023 tumbuh 4,6% yoy, dengan impor tumbuh 9,06% yoy. Jika surplus masih terjadi, ini menjadi capaian 34 bulan berturut-turut.

(wep/roy)

No more pages