Logo Bloomberg Technoz

Mengacu pada hasil beberapa riset yang pernah dilansir ke publik, anak muda terutama Gen Z, memang memiliki karakteristik yang khas. Studi yang dilakukan oleh Alvara Research pada 2022 lalu menyebut, Gen Z terlahir sebagai generasi yang sudah mengenal internet sejak masih lahir sehingga disebut sebagai digital native pertama di Indonesia. Gen Z peduli dengan isu-isu global terutama isu sosial dan lingkungan.

Yang perlu digarisbawahi, pola komunikasi Gen Z memang lebih menyukai visual ketimbang narasi. Dalam mengonsumsi sesuatu, Gen Z lebih mengutamakan sisi emosi alih-alih fungsi dan sangat melihat tren ketimbang dipengaruhi oleh diskon harga.

Bagaimana dalam isu politik? Riset yang sama menyebut, bagi Gen Z dan milenial politik adalah isu yang kurang menarik. Gen Z lebih suka topik yang membuat nyaman, ringan dan tidak menguras otak. Sistem dan situasi politik di masa depan, menurut Gen Z, tidak akan banyak berubah meski presiden berganti. 

Sementara menurut penelitian yang pernah dilansir oleh Aulia Nastiti, PHC Candidate di Northwestern University, Amerika Serikat, aksi politik Gen Z dalam arti luas cenderung didasari oleh preferensi personal yang pragmatis alih-alih didorong oleh bingkai ideologi atau ikatan kebangsaan. 

Meski terdengar cuek, bukan berarti Gen Z tidak peduli sama sekali. Justru bila menilik tipologi politik, Gen Z justru lebih dekat dengan tipologi sentimentalist yaitu pemilih yang cenderung lebih idealis, serius dan sensitif dalam kondisi apapun, menurut riset Alvara.

Gen Z berbeda dengan Milenial atau Gen Y yang cenderung rasional (melihat kondisi secara rasional dan logis) dan Gen X yang malah cenderung apatis (cuek terhadap kondisi apapun dan cenderung tidak mau terlibat dengan urusan negara). Bahkan 3 dari 4 Gen Z mengaku tidak setuju jika masa jabatan presiden diperpanjang ketika isu itu menggema beberapa tahun lalu. Untuk isu itu, sikap Gen Z tidak berbeda dengan dua generasi di atasnya.

Gen Z mungkin digital native yang lebih suka topik ringan dengan medium visual akan tetapi mereka tetap vokal dan peduli untuk turut bersuara bila itu menyangkut isu kemaslahatan bersama.

Gen Z tetap peduli dengan isu politik, sosial dan lingkungan (Sumber: Bloomberg)

Gen Z Indonesia Kritis dan Vokal

Dalam konteks Indonesia, publik tentu masih ingat bagaimana aksi anak muda kala demonstrasi terbesar di era pemerintah Presiden Joko Widodo meledak pada 2019. Ketika itu, aksi turun ke jalan berlangsung besar-besaran di banyak kota didasari oleh kemarahan atas pemberangusan anak kandung Reformasi 1998, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Tagar #reformasidikorupsi #tolakomnibuslaw #tolakruuciptakerja #mositidakpercaya menggema di media sosial. Gen Z yang masih memakai jaket almamater kampus kompak turun ke jalan memampang poster dengan sindiran telak dengan bungkus khas anak muda yang ceria dan nakal. 

Riset yang pernah dipublikasikan oleh British Council  menjelaskan dengan baik bagaimana wajah Gen Z bila menyoal isu politik. Generasi ini tidak apatis terhadap politik. Yang terjadi adalah, mereka frustrasi terhadap kondisi politik Indonesia.

"Sepertiga anak muda merasa pemerintahan tidak efektif. Kolusi, Korupsi dan Nepotisme dirasakan oleh generasi muda sebagai sesuatu yang tertanam dalam struktur sistem politik baik nasional maupun lokal dan mereka sangat ingin melihat ini ditangani," demikian dilansir dari British Council dalam publikasi berjudul "Next Generation Indonesia" yang dilansir Oktober 2022.

Anak-anak muda memakai media sosial untuk tetap berbagi pandangan politik dan tetap terinformasi seputar isu politik. Media sosial juga menjadi tempat melampiaskan rasa frustrasi mereka atas kondisi perpolitikan. 

Selain itu, Gen Z juga lebih tertarik pada sosok alih-alih partai politik. Sebanyak 17% anak muda merasa mereka lebih merasa terhubung bila ada sosok tokoh politik yang mereka lihat. 

"Politisi yang selaras dengan nilai-nilai anak muda adalah cara yang efektif untuk meningkatkan engagement dan kepercayaan. Namun, ada risikonya yakni generasi muda mungkin akan lebih melihat karakter ketimbang agenda kebijakan," jelas riset tersebut. 

Walau melihat politik seolah berada "di luar" dirinya, akan tetapi antusiasme pemilih muda kemungkinan tidak kecil dalam Pemilu dan Pilpres tahun depan. Riset yang dilansir oleh UMN Consulting pada 2022 lalu melansir, 88,78% Gen Z berniat memberikan suara pada Pemilu 2024. Sisanya yaitu 2,24% tidak memilih alias golput dan 88,98% mengaku masih ragu-ragu. 

“Mereka (Generasi Z) melabeli situasi politik Indonesia dengan sentimen negatif. Artinya, apapun yang dilakukan oleh para kontestan akan selalu dianggap negatif. Penting bagi kontestan untuk mengubah pandangan generasi muda dengan membuat program kerja dan realistis dan yang paling penting, bisa diselesaikan,” jelas Claudia Severesia, peneliti UMN Consulting seperti dilansir dari website resmi.

Akademisi Okky Madasari menilai, akan menjadi sebuah hal yang misleading bila melihat Gen Z adalah generasi yang tidak melek politik dan bisa dengan mudah ditarik hanya dengan konten-konten gimik yang dangkal.

"Saya sedih melihat tren fenomena gemoy [di mana] dia merasa Gen Z adalah [pemilih] yang tidak peduli dengan gagasan, dianggap anak muda hanya peduli pada tampilan lucu-lucuan dan viral, itu pembodohan dan penghinaan pada akal sehat kita. Bukan pemimpin gemoy yang kita [termasuk Gen Z] butuhkan tapi memang pemimpin yang bisa hadirkan gagasan-gagasan untuk kemajuan kita," kata Okky dalam diskusi di Fakultas Hukum UGM. 

(rui/aji)

No more pages