Modus ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, misalnya mengirim email berisi tawaran hadiah gratis yang mengarahkan korban ke situs berbahaya ketika tautannya dibuka.
Ada pula skema yang lebih rumit, seperti kuis online yang meminta informasi pribadi. Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa dimanfaatkan hacker untuk mengumpulkan data sensitif, misalnya tanggal lahir, nama gadis ibu kandung, atau nama hewan peliharaan pertama.
Salah satu jenis phishing adalah spear phishing. Serangan ini secara khusus menyasar individu tertentu dengan pesan yang dibuat seolah-olah relevan agar korban lebih mudah tertipu.
2. Aplikasi Mata-Mata
Hacker juga dapat menyusupkan malware ke ponsel melalui aplikasi yang diunduh pengguna. Aplikasi tersebut biasanya dibuat menyerupai permainan, perangkat produktivitas, atau aplikasi keamanan agar terlihat meyakinkan.
Padahal, di balik fungsi yang ditawarkan, aplikasi tersebut bisa menyimpan spyware yang bertugas memantau aktivitas online dan mengumpulkan informasi pribadi pengguna secara diam-diam.
Beberapa jenis spyware pada Android bahkan diklaim mampu memata-matai perangkat ketika ponsel dalam kondisi mati.
Selain spyware, ada pula stalkerware yang dapat digunakan untuk memantau pergerakan, riwayat penelusuran, pesan, hingga panggilan seseorang. Aplikasi semacam ini biasanya dipasang oleh orang yang memiliki kedekatan dengan korban.
3. Pertukaran SIM
Metode berikutnya dikenal sebagai SIM swapping atau penukaran kartu SIM. Serangan ini dilakukan dengan mengambil alih nomor telepon korban dan memindahkannya ke kartu SIM yang dikuasai pelaku.
Salah satu celah yang dimanfaatkan adalah sistem autentikasi dua faktor (2FA) yang mengirimkan kode verifikasi melalui SMS. Jika hacker berhasil menguasai nomor korban, kode tersebut berpotensi diterima oleh pelaku.
Biasanya, aksi ini diawali dengan phishing untuk mendapatkan informasi pribadi korban. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyamar sebagai pemilik nomor saat menghubungi penyedia layanan seluler dan mengajukan permintaan penggantian SIM.
Jika proses tersebut berhasil, hacker dapat mengambil alih nomor telepon dan berupaya mengakses akun yang menggunakan nomor tersebut sebagai metode verifikasi.
4. Akses Tidak Sah
Hacker dapat memanfaatkan phishing atau teknik lainnya untuk memperoleh akses ilegal ke akun iCloud maupun Google milik pengguna.
Risiko ini semakin besar ketika berbagai akun saling terhubung, termasuk dengan layanan media sosial. Jika salah satu akun berhasil dibobol, pelaku berpotensi memanfaatkan akses tersebut untuk menjangkau informasi lain yang tersimpan di dalamnya.
Setelah mendapatkan akses, hacker bisa melihat sejumlah data pribadi, seperti lokasi, email, pesan, hingga kata sandi yang tersimpan. Informasi tersebut kemudian dapat disalahgunakan untuk berbagai kepentingan yang merugikan korban.
5. Bluetooth
Bluetooth memang memudahkan pengguna menghubungkan ponsel dengan perangkat lain. Namun, koneksi ini juga berpotensi menjadi celah keamanan jika digunakan secara sembarangan.
Hacker dapat memanfaatkan perangkat lunak tertentu untuk mencegat sinyal Bluetooth dan mencoba memperoleh akses ke ponsel yang terhubung. Risiko tersebut bisa meningkat ketika pengguna memasangkan perangkat dengan sumber yang tidak dikenal atau berada di lingkungan yang tidak aman.
Karena itu, hindari menghubungkan ponsel dengan perangkat Bluetooth asing yang tidak jelas asal-usulnya. Matikan koneksi Bluetooth ketika sedang tidak digunakan untuk mengurangi risiko akses yang tidak diinginkan.
6. Wi-Fi
Selain Bluetooth, jaringan Wi-Fi juga dapat dimanfaatkan hacker untuk menyerang perangkat Android maupun iPhone.
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah penggunaan Wi-Fi publik. Jaringan yang tersedia di tempat umum belum tentu aman karena bisa saja telah disiapkan oleh pelaku untuk menjebak pengguna yang terhubung.
Melalui jaringan yang tidak aman, hacker berpotensi mengintip aktivitas internet atau mencoba mencuri informasi yang dikirimkan pengguna.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pengguna dapat memanfaatkan VPN atau Virtual Private Network di ponsel. VPN membantu mengenkripsi koneksi internet sehingga informasi yang dikirimkan menjadi lebih sulit diakses pihak lain.
7. Stasiun Pengisian Daya
Metode peretasan melalui tempat pengisian daya dikenal dengan istilah juice jacking. Teknik ini memanfaatkan stasiun pengisian daya yang telah disusupi malware.
Modus tersebut menyasar pengguna yang membutuhkan pengisian baterai, terutama ketika berada di tempat umum. Tanpa disadari, perangkat yang terhubung ke stasiun pengisian daya berbahaya bisa terpapar malware.
Jika berhasil masuk ke ponsel, malware tersebut berpotensi memantau aktivitas pengguna, mengumpulkan informasi pribadi, hingga mengirimkan data ke pelaku. Dalam kondisi tertentu, data yang dicuri juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan tindakan yang merugikan, termasuk penyalahgunaan rekening bank.
Karena itu, pengguna perlu lebih berhati-hati ketika mengisi daya ponsel di fasilitas umum yang tidak jelas keamanannya.
8. Trojan
Trojan merupakan jenis malware yang menyamar sebagai aplikasi atau file biasa agar pengguna tidak curiga saat membukanya.
Ketika berhasil dipasang atau dijalankan, program berbahaya tersebut dapat memberikan akses kepada hacker untuk melakukan berbagai tindakan tanpa sepengetahuan pemilik perangkat.
Trojan dapat digunakan untuk memata-matai aktivitas pengguna, menjadikan ponsel bagian dari botnet atau jaringan perangkat yang dikendalikan pelaku, hingga mengirimkan SMS berbahaya.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak sembarangan mengunduh aplikasi maupun membuka file dari sumber yang tidak terpercaya.
9. Pembajakan Kripto
Metode terakhir adalah cryptojacking, yaitu penggunaan perangkat milik orang lain untuk menambang mata uang kripto tanpa izin atau sepengetahuan pemiliknya.
Dalam praktiknya, hacker menyusupkan malware penambangan kripto ke ponsel korban. Program tersebut kemudian berjalan secara tersembunyi dengan memanfaatkan sumber daya perangkat untuk melakukan aktivitas penambangan.
Hasil penambangan nantinya dikirimkan ke dompet kripto digital milik pelaku. Sementara itu, korban bisa saja tidak menyadari bahwa ponselnya sedang digunakan untuk aktivitas tersebut.
Aktivitas penambangan tanpa izin juga dapat membebani kinerja perangkat karena menggunakan sumber daya ponsel secara terus-menerus.
Berbagai metode tersebut menunjukkan bahwa peretasan HP tidak selalu dilakukan dengan cara mengambil perangkat secara langsung. Hacker dapat memanfaatkan aplikasi, jaringan internet, hingga kelengahan pengguna untuk memperoleh akses ke informasi pribadi. Karena itu, penting untuk berhati-hati saat mengunduh aplikasi, membuka tautan, menghubungkan perangkat, maupun menggunakan jaringan publik.
(seo)



























