Dengan kondisi tersebut, Irman menilai The Fed belum memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuannya. Tingginya suku bunga global berpotensi turut membatasi fleksibilitas BI dalam menentukan arah kebijakan moneter domestik.
"Maka di tahun depan, Fed belum ada ruangan kalau kami melihatnya untuk memotong suku bunga acuan. Artinya 4,25% ini akan bertahan sepanjang tahun 2027," jelasnya.
Di dalam negeri, Irman menyebut terdapat dua faktor utama yang akan menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia pada 2027, yakni pergerakan nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga.
Menurutnya, perekonomian Indonesia masih berpotensi tumbuh cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global.
Namun, kondisi tersebut akan diiringi biaya pembiayaan yang lebih tinggi akibat suku bunga global dan domestik yang masih berada pada level tinggi.
Irman memperkirakan tingkat suku bunga terminal BI secara makroekonomi dapat mencapai 6,25%. Namun, realisasi kenaikan hingga level tersebut akan bergantung pada perkembangan tekanan eksternal ke depan.
Sebaliknya, apabila tekanan global mereda dan prospek kebijakan moneter AS membaik, BI dinilai tidak perlu memanfaatkan ruang kenaikan suku bunga tersebut.
Dalam skenario tersebut, Irman memperkirakan rupiah dapat kembali stabil di bawah Rp18.000/US$ pada 2027. Kondisi itu, ditambah dengan terbentuknya tren disinflasi, akan memberikan ruang bagi BI untuk mulai menurunkan suku bunga pada semester II-2027.
"Ruangannya cukup terbatas karena di global masih tinggi suku bunganya tadi kita lihat FED masih menahan suku bunga mungkin overall itu, dan kita lihat pentingnya [untuk] kita memapping sektoral perekonomian kita mana yang sensitif terhadap pelemahan rupiah mana juga yang sensitif terhadap suku bunga," jelasnya.
Sebagai catatan, BI =diketahui memutuskan untuk mempertahan suku bunga BI sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026.
(lav)






























