Prospek tersebut belum sepenuhnya tercermin dari kinerja saham TPIA kemarin. Alih-alih terus menguat, saham TPIA justru ditutup melemah.
Pada pagi hari, TPIA sempat naik 35 poin ke level Rp1.335/saham. Sore harinya, harga ditutup melemah 15 poin ke level Rp1.285/saham.
Namun dari sisi fundamental, TPIA masih bisa menjadi opsi. Naphtha menyumbang lebih dari 60% dari struktur biaya bahan baku petrokimia.
"Penurunan harga Naphtha memperlebar selisih harga (spread) antara bahan baku dan produk jadi, sehingga dorongan pemulihan margin kotor TPIA menjadi sangat signifikan," jelas Nafan.
Tim Riset Maybank Sekuritas yang terdiri dari Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim menjelaskan, bisnis baru kilang minyak TPIA di Singapura seharusnya bisa menyumbang 80% terhadap EBITDA 2026 yang diproyeksi mencapai US$1,32 miliar.
Namun, TPIA memutuskan untuk melakukan perawatan fasilitas sekaligus peningkatan produksi kilang minyak dari 237.000 barel/hari menjadi 300.000 barel/hari.
"Oleh karena itu, pemeliharaan ini akan memberikan tekanan signifikan terhadap laba dan berpotensi menyebabkan kerugian pada kuartal ketiga tahun 2026," seperti dikutip dari riset tersebut.
Tapi di sisi lain, margin bisnis kilang minyak tinggi. Hingga pertengahan Oktober kemarin, marginnya ada di kisaran US$27/barel ketika Brent bertahan di atas US$100/barel.
Persediaan minyak mentah TPIA, yang dibeli pada harga sekitar USS$90/barel, juga dapat memberikan keunggulan biaya lebih dari US$10/barel dibandingkan dengan harga yang berlaku saat ini.
Normalisasi operasional kilang minyak TPIA juga mulai berlangsung. Sehingga, ditambah dengan margin yang tinggi, perusahaan diperkirakan menunjukkan tanda-tanda pemulihan laba pada kuartal IV-2026.
Dengan kehadiran pabrik CA-EDC yang konstruksinya sudah lebih dari 80% juga turut menambah pemasukan bagi TPIA.
Berbeda dengan petrokimia konvensional, laba CA-EDC sangat sensitif dengan harga listrik, yang bisa mencapai 70% dari total biaya produksi. Namun, harga listrik lebih stabil dibanding harga minyak.
Mempertimbangkan situasi yang bakal dihadapi TPIA, Maybank tetap merekomendasikan buy TPIA, namun menurunkan target harga menjadi Rp1.800/saham dari sebelumnya Rp2.000/saham.
Rekomendasi tersebut juga sudah mempertimbangkan pemangkasan proyeksi pertumbuhan laba TPIA tahun ini menjadi 4,1% dari sebelumnya 5,9%.
Sementara, berdasarkan konsensus analis yang dihimpun Bloomberg, enam analis merekomendasikan buy TPIA dan satu analis merekomendasikan hold, tanpa ada satu analis pun merekemondasikan sell.
Adapun target harga konsensus sebesar Rp1.977/saham untuk 12 bulan ke depan.
Selain TPIA, Nafan menambahkan, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) memperoleh efisiensi pada biaya transportasi rantai pasok serta kemasan plastik berbasis resin.
Sedangkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) terbantu oleh penurunan biaya distribusi armada transportasi untuk menekan beban penjualan.
(dhf)

























