Lebih lanjut, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,03% dengan distribusi terhadap perekonomian sebesar 6,24%.
Setelah itu, sektor pengadaan listrik dan gas tumbuh 8% secara tahunan dengan distribusi terhadap perekonomian sebesar 1%.
Lebih lanjut, sektor infokom tumbuh 7,13% secara tahunan dengan distribusi terhadap perekonomian sebesar 4,28%. Kemudian, sektor jasa kesehatan tumbuh 6,97% dengan distribusi 1,23%.
Lalu, sektor jasa perusahaan tumbuh 6,77% secara tahunan dengan distribusi terhadap perekonomian sebesar 1,95%.
Kemudian, administrasi pemerintahan tumbuh 4,67% dengan distribusi sebesar 2,48%, diikuti jasa pendidikan sebesar 4,63% dengan distribusi 2,62%.
Adapun, sektor real estat tumbuh 4,10% secara tahunan dengan distribusi terhadap perekonomian sebesar 2,15%. Sementara itu, sektor pertanian hanya tumbuh 0,46% dengan distribusi sebesar 13,46%.
Terakhir, sektor pengadaan air tumbuh paling rendah, yakni 0,28% secara tahunan dengan distribusi terhadap perekonomian sebesar 0,06%.
Sebagai tambahan, BPS menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 5,47% secara tahunan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025.
M. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS menyebutkan bahwa konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar terhadap PDB dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 51,97% tumbuh 5,04% secara tahunan.
Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang memiliki kontribusi sebesar 30,81% meningkat 6,06% secara tahunan. Kedua komponen tersebut memberikan kontribusi gabungan sebesar 82,78% terhadap perekonomian.
“Konsumsi rumah tangga tumbuh didorong oleh restoran dan hotel yang tumbuh sebesar 6,59% seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi pada rumah makan dan restoran,” kata Edy dalam rilis BPS, Kamis (5/11/2026).
Sementara itu, transportasi dan komunikasi tumbuh sebesar 5,83% yang ditopang oleh mobilitas rumah tangga dan berbagai event pertunjukan dan olah raga.
Konsumsi pemerintah mencatat kenaikan tertinggi, yakni 8,95% secara tahunan, dengan kontribusi sebesar 7,28% terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.
Sebelumnya, BPS melaporkan seluruh sektor usaha tumbuh positif pada kuartal II-2026, kecuali pertambangan yang terkontraksi 1,64% secara tahunan.
Sektor pertambangan tercatat menyumbang porsi sekitar 8,87% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal II-2026.
Menurut BPS, sektor pertambangan mengalami kontraksi akibat penurunan produksi bijih bauksit, timah, dan nikel.
BPS juga mencatat belum pulihnya tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) turut memengaruhi hal tersebut.
Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta metrik ton (mt), turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 817,48 juta mt.
Dalam perkembangannya, Kementerian ESDM memproyeksikan produksi batu bara mencapai 720 juta metrik mt hingga akhir 2026.
Untuk target kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 ditetapkan sebanyak 260–270 juta mt. Angka ini mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan realisasi produksi bijih nikel sepanjang 2025 sebesar 320,37 juta mt.
Di sisi lain, Kementerian ESDM mengungkapkan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 hasil revisi mencapai 290—300 juta mt.
(azr/wdh)





























