Saham–saham LQ45 yang jatuh di teritori negatif antara lain, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah tajam mencapai 6,67%, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turun 4%. Saham PT XLSmart Tbk (EXCL) terdepresiasi 3,21%, dan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) drop 2,48%.
Senada, tren negatif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) drop 2,42%, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melemah 2,07%. Saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) terpeleset 1,32%.
Menelisik lebih jauh, saham BRPT turun dalam rasanya imbas disebut-sebut bakal keluar dari indeks MSCI dalam November Index Review 2026 yang hasilnya akan diumumkan pada Kamis (12/11/2026) dini hari waktu Tanah Air.
Untuk kategori MSCI Standard Cap, Mirae Asset Sekuritas menganalisis saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI Standard Cap (deletions).
Alasannya, BRPT punya ambang batas harga saham Rp1.290/saham, di mana harga ditutup di bawah level tersebut pada 4-10 hari perdagangan, termasuk pada hari acuan final ketika sahamnya ambruk ke zona Auto Reject Bawah (ARB) di posisi Rp1.070/saham.
Berdasarkan kondisi tersebut, probabilitas BRPT dikeluarkan dari indeks MSCI Standard diproyeksikan sekitar 40%, melansir Mirae Asset Sekuritas.
Apabila saham BRPT benar dikeluarkan nantinya, jumlah konstituen indeks MSCI Standard Cap Indonesia akan menyusut menjadi tersisa tujuh saham, sementara bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets diestimasikan kembali turun menjadi sekitar 0,39%.
Mirae Asset memperhitungkan penghapusan saham BRPT dari indeks MSCI diprediksi akan menambah potensi arus dana keluar sebesar Rp900 miliar, atau 3,7% dari kepemilikan asing. Adapun penyesuaian konstituen dan portofolio pengelola indeks global tersebut akan berlaku efektif mulai 1 Desember 2026.
(fad)



























