“Pasar saham kini merayakan kebuntuan di Kongres, kesediaan Presiden Trump untuk bekerja sama dengan Kongres yang baru, serta kemungkinan bahwa pemerintahan Trump tidak akan langsung menyerang Iran karena negosiasi baru diperkirakan akan dimulai,” kata Louis Navellier, kepala investasi di Navellier & Associates.
Menurut Scott Rubner, kepala strategi saham dan derivatif saham di Citadel Securities, saham-saham AS berpeluang menguat hingga akhir tahun karena pemilu telah menghilangkan salah satu sumber ketidakpastian, kinerja laba perusahaan tetap kuat, dan minimnya posisi investasi investor masih membuka ruang bagi pembelian kembali saham.
Sejak 1946, pasar saham selalu mencatat kenaikan dalam setahun setelah pemilihan paruh waktu, termasuk dalam keempat kesempatan ketika kendali DPR dan Senat beralih ke partai yang berseberangan dengan presiden, kata Keith Lerner dari Truist Advisory Services Inc.
“Hal itu mendukung skenario dasar kami untuk tetap memberikan ruang bagi pasar bullish berlanjut. Namun, laba perusahaan, perekonomian, suku bunga, valuasi, dan tren pasar tetap menjadi faktor yang lebih penting dalam menentukan pandangan kami,” tambahnya.
Meski Demokrat berpotensi mempersulit pembangunan pusat data di sejumlah negara bagian, banyak investor menilai hal tersebut tidak akan langsung mengancam tema investasi kecerdasan buatan (AI) yang telah mendorong reli saham-saham terkait sektor tersebut.
Pengawasan Kongres yang lebih ketat belum tentu menggagalkan siklus investasi AI karena permintaan yang mendasarinya masih kuat, menurut Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management.
“Ya, kekhawatiran mengenai potensi regulasi AI memang tinggi. Namun, kenyataannya pasar tidak menyukai ketidakpastian. Kini, setelah pemilu selesai, kita melihat para pembeli mulai masuk ke berbagai sektor,” kata Ryan Detrick dari Carson Group.
(bbn)




























