Namun, pada Senin (2/11/2026), harga itu justru anjlok hingga menjadi diskon sebesar US$1,40. Tren serupa juga terlihat di seluruh Eropa dan Timur Tengah.
Kondisi ini mencerminkan bangkitnya kembali ekspor dari Arab Saudi dan produsen regional lainnya. Volume ekspor mereka telah kembali ke tingkat yang terakhir kali terlihat sebelum perang Iran, meskipun sempat terjadi serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Selain itu, penurunan biaya sewa kapal tanker juga turut berkontribusi dalam menekan harga sejumlah jenis minyak.
Pasar berjangka terus mengalami gejolak akibat perkembangan terkini dalam konflik yang terjadi. Harga minyak Brent anjlok 8% pada Senin setelah Washington dan Teheran mengisyaratkan kemungkinan menempuh solusi diplomatik.
Hal ini menjadi pengingat bahwa sebagian besar penguatan di pasar berjangka didorong oleh kekhawatiran akan eskalasi konflik hingga mengganggu kembali aliran minyak dari Teluk Persia ke pasar global.
Untuk saat ini, skenario tersebut belum terjadi. Peningkatan pasokan minyak dari Arab Saudi dan wilayah lain justru memberikan kelegaan yang lebih nyata di pasar fisik.
Menurut data yang dihimpun Bloomberg, pada awal Oktober, harga Dated Brent sempat berada pada premi sekitar US$30/barel dibandingkan dengan ICE Brent.
Menjelang awal bulan ini, premi tersebut menyusut menjadi sekitar US$3,70. Perlu dicatat, secara absolut, harga minyak fisik masih tergolong mahal menurut standar historis; pada Senin, harga Dated Brent bahkan berada di atas US$108/barel.
Jenis Minyak Lainnya
Selain pelemahan di Laut Utara, jenis minyak CPC Blend asal Kazakhstan kini diperdagangkan dengan diskon terbesar dalam 14 tahun terakhir. Para pedagang juga melaporkan bahwa penjualan pasokan minyak dari Afrika Barat mengalami perlambatan.
Hingga hari Jumat, sekitar 10—15 kargo minyak mentah Nigeria yang dijadwalkan untuk dimuat bulan ini belum terjual—laju yang lebih lambat dari biasanya—mengingat perdagangan untuk pasokan Desember sudah mulai berjalan.
Satu kargo minyak jenis Djeno dari Republik Kongo baru-baru ini terjual dengan diskon US$25/barel di bawah harga Dated Brent—tingkat harga yang menurut para pedagang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun.
Di Timur Tengah, indikator harga utama menunjukkan bahwa pasokan untuk jangka pendek kini melampaui permintaan, untuk pertama kalinya sejak Juli.
Kontrak terdekat untuk acuan harga minyak Dubai—yang menjadi patokan bagi hampir seluruh ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut—kini diperdagangkan dengan diskon dibandingkan kontrak-kontrak untuk periode berikutnya.
Ini adalah kemunculan kembali struktur pasar contango (yang mencerminkan sentimen bearish) sejak Juli, saat harga minyak global anjlok menyusul gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memungkinkan kapal-kapal tanker keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz.
Menurut para pedagang dan pialang, kontrak untuk November saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar US$2/barel dibandingkan dengan kontrak Desember.
Hal ini didorong oleh lonjakan aliran minyak dari Timur Tengah. Menurut data Bloomberg yang dihimpun dari pelacakan kapal tanker dan estimasi konsultan, total ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, dan Kuwait meningkat sebesar 10% menjadi sedikit di atas 15 juta barel per hari pada bulan lalu.
Aliran tersebut diperkuat oleh makin seringnya penggunaan layanan pengangkutan ulang-alik (shuttle runs) dengan kapal tanker, serta pemanfaatan jalur pipa alternatif oleh pihak Arab Saudi.
(bbn)






























