Menurut laporan yang diterimanya, PHK di PT Ghim Li mencapai sekitar 1.170 orang. Hingga saat ini, belum ada kejelasan apakah perusahaan akan membayarkan pesangon atau mempekerjakan kembali para pekerja terdampak.
"Itu dua tempat itu aja udah hampir 2.500 orang. Baru dua perusahaan," katanya.
Lebih lanjut, Said Iqbal mengungkapkan bahwa berdasarkan temuannya di lapangan, PHK paling banyak terjadi pada sektor garmen, tekstil, dan sepatu, khususnya perusahaan yang berorientasi ekspor.
Perusahaan-perusahaan tersebut umumnya dimiliki oleh perusahaan dari Taiwan, Korea, dan Hong Kong yang memproduksi barang-barang bermerek internasional, seperti sepatu Puma, Adidas, dan Nike. Sementara di sektor garmen terdapat merek Uniqlo dan H&M.
Ia menjelaskan, penutupan perusahaan dan PHK tersebut berkaitan dengan menurunnya daya beli masyarakat internasional akibat perang Iran-Amerika-Israel. Kondisi itu turut mendorong kenaikan harga gas industri dan BBM serta menyebabkan fluktuasi nilai tukar dolar.
Selain itu, daya beli masyarakat di sejumlah negara tujuan ekspor, seperti London, Paris, Milan, dan Singapura, juga disebut mengalami penurunan. Akibatnya, permintaan terhadap barang-barang bermerek internasional ikut berkurang.
Said Iqbal menyebut sejumlah perusahaan yang menjadi temuannya, di antaranya Victoria Apparel, uniqlo dan Nam-Nam. Ia juga menyebut PWI 6 di Lebak sebagai perusahaan yang memproduksi sepatu untuk merek Nike, Puma, dan Adidas, serta Ghim Li di Batam yang memproduksi produk-produk sepatu Amerika.
"Jadi memang harus diakui bukan yang domestik, yang internasional. Tapi tetap yang di-PHK buruh Indonesia," ujarnya.
(ain)
































