Logo Bloomberg Technoz

Minat investor tertuju pada seri tenor pendek SPNS (jatuh tempo Juli 2027) yang melonjak 48,87% menjadi Rp7,89 triliun dari penawaran sebelumnya hanya Rp5,3 triliun.

Sedangkan, penawaran pada tenor lainnya mencatat penurunan cukup signifikan, terutama pada seri tenor yang lebih panjang. 

  • PBS030 turun Rp551 miliar jadi Rp343 miliar dari sebelumnya Rp840 miliar. 
  • PBS040 turun Rp821,2 miliar jadi Rp2,47 triliun, dari sebelumnya Rp3,24 triliun. 
  • PBS038 turun dari Rp840 miliar jadi Rp343 miliar. 

Dari sisi penyerapan, seri pendek SPNS yang jatuh tempo Juli tahun depan menjadi kontributor terbesar yang mengerek tingkat penerbitan. Pemerintah menaikkan penyerapan sebesar Rp2,6 triliun menjadi Rp7,25 triliun. 

Sedangkan pada seri PBS030, persentase penyerapannya juga ikut naik signifikan meski secara nominal lebih kecil. Lewat seri ini, pemerintah mengantongi Rp800 miliar dana investor, dari lelang sebelumnya hanya Rp200 miliar. Kenaikannya jadi 300%. 

Penyerapan tinggi ini bukan lantaran investor mendiskon yield, justru yield ikut merangkak naik di tengah kekhawatiran klasifikasi pasar Indonesia menjadi standalone market.

Bahkan, untuk tenor 2 tahun (PBS030) naik jadi 7,07% dari lelang sebelumnya hanya 6,85%. Begitu juga tenor pendek SPNS ikut terangkat naik jadi 6,69% dari sebelumnya di kisaran 6,45%. 

Adapun, yield tenor 12 tahun (PBS034) juga naik ke 7,67%, diikuti tenor paling panjang di atas 20 tahun naik jadi 7,71% dari sebelumnya di level 7,38%. 

Sehingga, bisa dikatakan meskipun permintaan investor secara agregat naik, tapi biaya penerbitan utang pemerintah kini menjadi semakin mahal. 

Kenaikan yield dalam lelang sukuk hari ini perlu dibaca dalam konteks dinamika pasar keuangan saat ini yang masih berada di bawah tekanan.

Ketidakpastian terkait klasifikasi pasar saham RI oleh MSCI, volatilitas nilai tukar rupiah, juga perubahan ekspektasi suku bunga jadi faktor yang berpotensi memengaruhi keputusan investasi di pasar surat utang. 

Namun, besarnya minat investor kali ini tertopang oleh pasar obligasi global yang mengalami pemangkasan yield, sejalan dengan gerak yield US Treasury di kisaran 4,91% yang diikuti penurunan yield di pasar obligasi global. 

Selain itu, rilisnya sejumlah data ekonomi domestik yang tidak seburuk ramalan ekonom dan analis, turut menopang minat investor di pasar obligasi hari ini. 

Kepemilikan Sukuk  

Melansir data kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN), sepanjang Oktober kepemilikan sukuk memang naik dari Rp1.301,55 triliun per 1 Oktober, jadi Rp1.324,5 triliun pada 30 Oktober. 

Berdasarkan kepemilikannya, nonresiden tercatat naik 11,02% dari Rp17,79 triliun menjadi Rp19,75 triliun. Meski secara persentase tumbuh lebih besar, tetapi secara nominal kepemilikan nonresiden masih kalah dengan pertumbuhan kepemilikan bank sentral. 

Rupanya Bank Indonesia (BI) menempatkan dana lebih banyak di pasar sukuk sepanjang Oktober. Data Kementerian Keuangan mencatat, kepemilikan BI di aset sukuk meski naik single digit 4,67% sepanjang Oktober, dari Rp262,21 triliun jadi Rp274,46 triliun. 

Bertambahnya kepemilikan BI sebesar Rp12,25 triliun atau 4,67% itu menyumbang sekitar 53,4% dari total pertambahan kepemilikan sukuk sepanjang Oktober. 

Selain bank sentral, institusi perbankan juga menambah eksposurnya secara signifikan. Kepemilikan perbankan naik Rp9,13 triliun, atau 3,42%, setara dengan 39,8% dari total kenaikan sukuk. 

Sebaliknya, reksadana justru mengurangi kepemilikan terhadap aset sukuk. Posisinya turun Rp1,64 triliun sepanjang Oktober, dan bahkan menyusut Rp5,7 triliun sejak 16 Oktober. 

(dsp)

No more pages