Logo Bloomberg Technoz

“Karena itu, saya menyambut baik program Desa Brilian 1.000 Hari Pertama Kehidupan di Hargobinangun ini. Saya berharap Posyandu Lili semakin aktif melayani masyarakat dan dimanfaatkan secara rutin oleh para ibu untuk memantau tumbuh kembang anak. Saya juga ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada ibu-ibu kader posyandu yang selama ini bekerja dengan penuh kepedulian. Ibu-ibu memiliki peran strategis dan menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga kesehatan ibu dan anak, memantau tumbuh kembang balita, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi dan kesehatan keluarga,” ujarnya.

Penguatan peran kader menjadi salah satu aspek penting dalam keberlanjutan layanan posyandu. Kader berinteraksi langsung dengan keluarga dan membantu menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan layanan kesehatan yang tersedia.

Melalui kegiatan pemantauan rutin, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai perkembangan anak sekaligus memahami pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi. Edukasi kepada ibu hamil juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan selama masa kehamilan.

Program Desa BRILiaN 1.000 HPK Jangkau Ratusan Balita

(Dok. BRI)

Hingga Oktober 2026, Program Desa BRILiaN 1.000 HPK telah menjalankan sejumlah kegiatan untuk memperkuat layanan kesehatan masyarakat di Hargobinangun. Program tersebut tidak hanya berfokus pada perbaikan fasilitas, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas kader dan pendampingan kelompok sasaran.

Dalam pelaksanaannya, BRI telah merevitalisasi dua posyandu, yakni Posyandu Matahari di Dusun Kaliurang Barat dan Posyandu Lili di Dusun Purworejo. Selain pembenahan fasilitas, program ini memberikan pelatihan kepada puluhan kader dari 13 posyandu.

Penguatan kapasitas kader tersebut diharapkan dapat mendukung kualitas pelayanan kesehatan di tingkat komunitas. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik, kader diharapkan mampu menjalankan kegiatan pemantauan serta memberikan edukasi kepada masyarakat secara lebih optimal.

Program ini juga telah menjangkau 21 ibu hamil dan 27 peserta kelas gizi melalui edukasi mengenai kesehatan kehamilan dan pemenuhan nutrisi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman keluarga mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan hingga masa pertumbuhan anak.

Selain edukasi, pemantauan pertumbuhan dilakukan terhadap 141 balita. Langkah ini ditujukan untuk membantu mendeteksi secara dini risiko gangguan pertumbuhan sehingga kondisi anak dapat dipantau secara lebih teratur.

Dukungan juga diberikan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Program tersebut menyasar 23 ibu hamil dan 24 balita yang mengalami kondisi gizi kurang.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan pendekatan program yang menggabungkan perbaikan sarana, penguatan sumber daya manusia, edukasi, serta dukungan pemenuhan gizi. Dengan cakupan tersebut, Desa BRILiaN 1.000 HPK diarahkan untuk memberikan manfaat yang tidak hanya terbatas pada tersedianya fasilitas posyandu, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga.

Bupati Sleman Harda Kiswaya menilai keberadaan Posyandu Lili dapat memperkuat pelayanan kesehatan dasar sekaligus memperluas akses edukasi bagi keluarga. Menurutnya, fasilitas tersebut memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat pemantauan tumbuh kembang anak.

“Peresmian Posyandu Lili menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat pelayanan kesehatan dasar yang dekat dengan masyarakat. Posyandu memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai tempat pemantauan pertumbuhan anak, tetapi juga sebagai ruang edukasi bagi orang tua mengenai kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, pola asuh, serta pencegahan masalah kesehatan lainnya,” ungkapnya.

Kebun Pangan Perempuan Perkuat Pemenuhan Gizi Keluarga

(Dok. BRI)

Selain revitalisasi posyandu, BRI juga meresmikan Kebun Pangan Perempuan berbasis polibag di wilayah tersebut. Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan dan pengembangan kegiatan pertanian skala rumah tangga.

Kebun tersebut menyediakan sayuran segar yang dibudidayakan tanpa menggunakan pestisida kimia. Hasil panennya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus mendukung penyediaan PMT berbahan pangan lokal.

Pengembangan kebun juga melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT). Melalui kegiatan tersebut, kelompok perempuan memperoleh ruang untuk mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan, mengolah hasil panen, hingga mengembangkan pemasaran produk.

Dengan demikian, Kebun Pangan Perempuan tidak hanya diarahkan untuk mendukung kebutuhan konsumsi rumah tangga. Kegiatan ini juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan dan pemasaran hasil pertanian.

Di sisi lain, keberadaan kebun dapat menjadi sarana pembelajaran komunitas mengenai praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan. Masyarakat dapat memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menghasilkan pangan sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan sekitar.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, keberhasilan program sosial perusahaan perlu dilihat dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat serta keberlanjutan dampaknya. Menurutnya, pelaksanaan program TJSL tidak cukup hanya berorientasi pada penyelenggaraan kegiatan, tetapi harus mampu menghadirkan kontribusi nyata.

“Sebagai salah satu institusi perbankan nasional, BRI tidak hanya berkomitmen memberikan layanan keuangan, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL BRI Peduli. Melalui BRI Peduli, kami terus mendorong berbagai program pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat berkelanjutan di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan, sekaligus mendukung prioritas pembangunan nasional,” kata Dhanny.

Melalui integrasi revitalisasi posyandu dan pengembangan kebun pangan, program BRI Peduli di Hargobinangun mencakup dua aspek yang saling berkaitan, yakni kesehatan keluarga dan ketahanan pangan rumah tangga.

Penguatan layanan kesehatan dasar diharapkan dapat berjalan seiring dengan peningkatan akses masyarakat terhadap pangan bergizi. Sementara itu, pelibatan kader posyandu dan kelompok wanita tani menjadi bagian dari upaya membangun partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan program.

BRI melalui program TJSL BRI Peduli menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung pembangunan di tingkat desa. Di Hargobinangun, upaya tersebut diwujudkan melalui penyediaan fasilitas kesehatan, peningkatan kapasitas kader, edukasi gizi, serta pengembangan kebun pangan berbasis komunitas.

(tim)

No more pages