Logo Bloomberg Technoz

Kedua, kelompok pengeluaran transportasi juga mendorong inflasi. Pada Oktober, kelompok transportasi mengalami inflasi 4,87% dengan andil inflasi 0,59%. Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan pemeliharaan service, dan mobil.

Ketiga, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yakni mengalami inflasi mencapai 4,52% dan memberi andil 0,32%.

"Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditas emas dan perhiasan,” tutur Ateng.

Konsensus Bloomberg yang melibatkan 24 analis/ekonom menghasilkan median proyeksi inflasi Oktober secara tahunan sebesar 3,25%. Kemudian inflasi inti Oktober diperkirakan sebesar 2,7% yoy, juga lebih rendah dari realisasi September di 2,84% yoy.

Meski ada potensi melambat, tetapi laju inflasi masih di level tinggi. Dekat dengan batas atas target Bank Indonesia (BI) yakni 3,5%.

Bloomberg Economics menyebut bahwa laju inflasi Indonesia memang relatif Stabil pada Oktober. Namun bukan berarti badai sudah berlalu.

“Ke depan, inflasi jelang akhir tahun kemungkinan akan berada di atas target bank sentral. Didorong oleh kenaikan biaya kredit dan harga pangan akibat El Nino,” demikian catatan Bloomberg Economics.

Lonjakan harga minyak, lanjut riset Bloomberg Economics, juga akan mempengaruhi berbagai harga barang dan jasa. Meski dampak langsungnya bisa diredam oleh subsidi pemerintah.

Untuk 2027, survei Bloomberg memperkirakan inflasi Indonesia akan ada di 3%. Sedikit lebih tinggi dibandingkan survei sebelumnya yang memperkirakan di 2,9%.

Ahmad Mobeen dari S&P Global Market menilai, masalah terbesar yang dialami Indonesia bukanlah soal prospek dan potensi ekonomi. Melainkan kepercayaan pasar yang tergerus.

“Tingkat kepercayaan investor adalah tantangan terbesar yang dialami Indonesia, bukan soal potensi ekonomi. Pasar berfokus kepada rencana belanja pemerintah,” tegas Mobeen, seperti dikutip dari Bloomberg News.

(lav)

No more pages