Pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia juga berpotensi meningkatkan biaya impor serta produksi, meskipun dampaknya terhadap harga konsumen berlangsung bertahap.
"Menurut kami, tantangan inflasi saat ini lebih banyak berasal dari gangguan pasokan pangan dan tekanan biaya produksi dibandingkan lonjakan permintaan masyarakat," tuturnya.
Menurut dia, tantangan kebijakan ke depan bukan hanya menjaga inflasi tetap dalam sasaran, tetapi juga memperkuat pasokan pangan, mengurangi ketergantungan impor energi, meningkatkan nilai tambah ekspor manufaktur, dan menjaga kepercayaan investor.
Dalam skenario dasar, Josua memperkirakan inflasi akhir 2026 akan berada di kisaran 3,13%, dengan asumsi harga energi bersubsidi tetap dipertahankan.
"Namun, apabila harga minyak terus meningkat, El Niño semakin mengganggu produksi pangan, dan rupiah melemah lebih dalam, risiko inflasi melampaui proyeksi tersebut akan semakin besar," ucapnya.
(lav)



























