Namun, tekanan mulai berpotensi masuk melalui barang impor dan bahan baku, seperti gandum, kedelai, gula, hingga produk elektronik.
Menurut Yusuf, pelemahan rupiah yang berlanjut dapat menambah inflasi sekitar 0,4-0,8 poin persentase dalam setahun, terutama melalui inflasi inti.
Sementara itu, kenaikan harga Pertamax diperkirakan memberikan dampak terbatas karena bobotnya dalam indeks harga konsumen relatif kecil.
"Risiko yang lebih besar muncul apabila harga Pertalite disesuaikan setelah kebijakan penahanan harga berakhir. Kenaikan sekitar 10% berpotensi menambah inflasi sekitar 0,3 sampai 0,5 poin persentase setelah memperhitungkan dampaknya terhadap transportasi dan logistik," jelasnya.
Dengan melihat perkembangan tersebut, Yusuf berpandang inflasi sepanjang 2026 masih berpeluang terjaga di kisaran 3,1%-3,4%, meskipun sudah mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia (BI).
Sementara tekanan yang lebih besar berpotensi muncul pada awal 2027 apabila rupiah belum menguat dan pemerintah mulai menyesuaikan harga energi.
Surplus Dagang Menyusut
Di sisi lain, Yusuf memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 masih mencatatkan surplus, tetapi lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Dia memproyeksikan surplus neraca perdagangan September berada di kisaran US$1,5 miliar-US$2,5 miliar, menyusut dari US$3,55 miliar pada Agustus 2026.
Menurutnya, surplus perdagangan pada Agustus banyak ditopang oleh penurunan impor secara bulanan. Kondisi tersebut diperkirakan tidak berulang pada September.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperbesar tagihan impor migas.
Sementara itu, ekspor Indonesia masih mendapat dukungan dari sejumlah komoditas unggulan, seperti minyak kelapa sawit (CPO), nikel, aluminium, serta besi dan baja.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa surplus perdagangan Indonesia semakin rentan terhadap tekanan dari sektor migas.
"Dalam delapan bulan pertama tahun ini, defisit migas hampir menghapus seluruh surplus nonmigas. Kualitas surplus juga perlu dilihat secara hati-hati."
"Jika surplus bertahan karena impor bahan baku dan barang modal melemah, kondisi itu bukan sepenuhnya positif karena dapat menunjukkan perlambatan produksi dan investasi," tegasnya.
Dengan demikian, kata Yusuf inflasi Oktober diperkirakan masih akan terkendali dan neraca perdagangan September tetap surplus. Namun, keduanya belum cukup kuat untuk menghilangkan tekanan terhadap rupiah dalam waktu dekat.
(prc/naw)


























