Logo Bloomberg Technoz

Menurut dia, kolaborasi dengan Kemenkop juga mempertemukan peran masyarakat, koperasi, perguruan tinggi, dan industri nasional dalam menciptakan nilai tambah dari limbah domestik. Dengan demikian, minyak jelantah tidak lagi sekadar menjadi sisa kegiatan rumah tangga, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.

“Bagi saya, ini bukan sekedar program pengumpulan minyak jelantah. Ini adalah contoh bagaimana gotong royong masyarakat, kekuatan koperasi, inovasi perguruan tinggi dan kemampuan industri nasional dapat saling terhubung untuk menciptakan nilai,” jelas Simon.

Pertamina sebelumnya telah mengembangkan pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar avtur nabati atau sustainable aviation fuel (SAF). Pengembangan tersebut telah melalui sejumlah tahapan pengujian, termasuk uji terbang menggunakan pesawat dan penerbangan komersial.

Simon menjelaskan, pengujian awal dilakukan menggunakan pesawat CN235 beberapa tahun lalu. Tahapan berikutnya melibatkan maskapai Garuda Indonesia, sebelum berlanjut ke penerbangan komersial perdana Pelita Air pada 2025 dengan rute Jakarta-Denpasar.

"Contoh yang sudah kami lakukan adalah di Pertamina kami sudah melakukan uji terbang beberapa tahun yang lalu dengan pesawat CN235, setelah itu dilanjutkan pengujian menggunakan maskapai Garuda Indonesia, dan pada tahun 2025 kami sudah melakukan uji terbang pada penerbangan komersil perdana pada penerbangan Pelita Air dari Jakarta menuju Denpasar," ujar Simon.

Koperasi Disiapkan Jadi Pengumpul Minyak Jelantah

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, proyek percontohan ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi produktif di tingkat desa. Koperasi akan memperoleh peran sebagai pengumpul minyak jelantah dari masyarakat sebelum menjualnya kepada PT Pertamina Patra Niaga.

Pemerintah berencana menjadikan proyek percontohan di Banyumas sebagai model yang dapat diterapkan di KDKMP wilayah lain. Dengan skema tersebut, pengumpulan minyak jelantah diharapkan berkembang menjadi salah satu kegiatan usaha koperasi yang memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya.

"Ini bisa menjadi model yang bisa digunakan di seluruh KDKMP di seluruh Indonesia. Minyak jelantah yang dikumpulkan selanjutkan dijual ke PT Pertamina Patra Niaga, untuk selanjutnya diproses di kilang untuk dijadikan sebagai bahan bakar avtur yang akan dijual kepada aviasi. Bahkan tidak tertutup kemungkinan kita bisa mengekspor avtur ini yang berbahan baku dari minyak jelantah," kata Ferry.

Ferry menambahkan, skema bisnis tersebut dirancang agar memberikan keuntungan bagi koperasi dan anggotanya. Selain memperoleh pendapatan dari aktivitas pengumpulan, masyarakat juga didorong untuk mengubah kebiasaan dalam mengelola limbah rumah tangga.

Aspek lingkungan menjadi salah satu alasan pengembangan program ini. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari sumber air dan lingkungan sekitar. Pemerintah menyoroti bahwa satu liter minyak jelantah yang dibuang sembarangan memiliki potensi pencemaran yang setara dengan satu juta liter air bersih.

"Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana mengajak masyarakat agar punya kesadaran terhadap lingkungan hidup. Minyak jelantah yang selama ini tidak pernah terpakai dan mereka buang, sekarang bisa dijual kepada kami melalui KDKMP dan selanjutnya dimanfaatkan dan diproses oleh PT Pertamina Patra Niaga," katanya.

Untuk memastikan pasokan bahan baku tersedia secara konsisten, Ferry menilai pengumpulan minyak jelantah perlu melibatkan berbagai sumber. Ekosistem yang dibangun tidak hanya menyasar rumah tangga, tetapi juga warung makan, restoran, industri kecil, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

KDKMP nantinya berperan sebagai pengepul resmi yang menghubungkan sumber minyak jelantah dengan industri pengolahan. Pemerintah berharap pola tersebut dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah domestik sekaligus memperluas partisipasi dalam ekonomi hijau.

Gerakan ini mengusung kampanye "Jelantah Jadi Berkah: Koperasi Menggerakkan Kesejahteraan Rakyat melalui Ekonomi Hijau". Melalui kampanye tersebut, pengumpulan minyak jelantah diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi baru, tetapi juga mendorong kesadaran pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab.

Pertamina Siapkan Pengembangan Kilang Pengolah SAF

Dari sisi industri, Pertamina Patra Niaga menyatakan kesiapan untuk menyerap dan mengolah minyak jelantah yang dikumpulkan melalui jaringan koperasi. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengatakan, perusahaan telah menyiapkan fasilitas pengolahan untuk mengubah bahan baku tersebut menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas yang telah terbukti mampu memproduksi SAF. Dalam proses pengolahannya, Pertamina menggunakan katalis hasil inovasi dalam negeri yang dikenal sebagai Katalis Merah Putih.

Ke depan, perusahaan juga berencana mengembangkan fasilitas pengolahan di sejumlah kilang lain, yakni Balongan, Dumai, dan Plaju. Pengembangan kapasitas tersebut membutuhkan kepastian pasokan bahan baku agar produksi dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan fasilitas pengolahan untuk memanfaatkan minyak jelantah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas yang telah terbukti mampu memproduksi SAF, dengan menggunakan katalis hasil inovasi dalam negeri yaitu Katalis merah putih, selanjutnya Pertamina Patra Niaga akan mengembangkan fasilitas lainnya, antara lain kilang Balongan, Dumai, dan Plaju. Karena itu, kepastian pasokan bahan baku menjadi hal penting agar pengembangan energi ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Mars Ega.

Sebagai tahap awal, PT Pertamina Patra Logistik bersama Kementerian Koperasi akan menguji coba skema pengumpulan minyak jelantah pada empat koperasi di Kabupaten Banyumas. Keempatnya adalah KDMP Dawuhan di Kecamatan Banyumas, KKMP Kober dan KKMP Karanglewas Lor di Kecamatan Purwokerto Barat, serta KKMP Karangwangkal di Kecamatan Purwokerto Utara.

Uji coba tersebut direncanakan berlangsung selama sekitar empat bulan dengan target pengumpulan mencapai 500.000 liter minyak jelantah. Hasil pelaksanaan proyek percontohan akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan skema serupa di wilayah lain.

Pengembangan rantai pasok ini mencakup tiga tahapan utama. Pada sisi hulu, Pertamina dan koperasi berupaya memperkuat pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat. Selanjutnya, bahan baku akan diolah di fasilitas kilang pada tahap midstream, sebelum produk akhirnya dipasarkan kepada konsumen industri, termasuk sektor penerbangan.

Melalui pola tersebut, Pertamina berupaya membangun rantai nilai bahan bakar nabati yang mengoptimalkan sumber daya domestik. Keterlibatan koperasi diharapkan memperluas basis pasokan sekaligus mendistribusikan manfaat ekonomi hingga ke tingkat desa.

Proyek percontohan di Banyumas menjadi langkah awal untuk menguji kesiapan model bisnis pengumpulan minyak jelantah berbasis koperasi. Keberhasilan program ini akan bergantung pada konsistensi pasokan, partisipasi masyarakat, kesiapan fasilitas pengolahan, serta keberlanjutan skema usaha bagi koperasi.

Dengan menghubungkan pengumpulan limbah rumah tangga dan kebutuhan bahan baku industri energi, Pertamina dan Kementerian Koperasi berupaya menciptakan nilai ekonomi dari sumber daya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Inisiatif tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung pengembangan energi berkelanjutan dan memperkuat ketahanan energi nasional.

(tim)

TAG

No more pages
← Prev article

Artikel Terkait

Baca Juga

Lainnya

Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone