Para trader minyak tengah bersiap menghadapi eskalasi ketegangan, setelah Pemilu sela AS pada 3 November.
Pada Jumat, harga minyak Brent sempat melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan di atas US$117 per barel, di tengah munculnya sinyal bahwa AS mungkin akan kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Hynes dan Kumari mencatat bahwa meski arus pengiriman melalui Selat Hormuz sebagian besar telah pulih, efektivitas pengiriman tersebut kini hanya mencapai sekitar 60% dari level sebelum perang.
Mereka menambahkan, bahkan tanpa ada perburukan dalam aspek logistik, kondisi pasokan yang ketat saat ini—terutama di sektor pengiriman—akan menyulitkan pasar untuk memulihkan kembali cadangan minyak.
Di sisi lain, cadangan strategis telah banyak terkuras, sedangkan permintaan riil mungkin lebih kuat dari yang diperkirakan sebelumnya. Saat ini, cadangan minyak mentah global yang tersedia ada di kisaran 41 hari, turun dari 45 hari pada awal tahun ini.
Lebih lanjut, mereka menyebut setiap peningkatan pasokan minyak dapat memicu kembali permintaan yang sebelumnya tertahan akibat kelangkaan, tingginya biaya angkutan, atau hambatan perdagangan dan penyulingan.
"Situasi ini cukup mengkhawatirkan," tulis para analis tersebut. "Delapan bulan beradaptasi dengan gangguan pasokan dari Timur Tengah telah secara signifikan melemahkan bantalan yang sebelumnya mampu meredam guncangan awal."
(bbn)



























