Perkiraan ini turun dari survei bulan sebelumnya yang tercatat 4,9%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2027, diperkirakan 4,8%. Estimasi ini lebih rendah dari hasil survei bulan lalu yaitu 4,9%.
Namun, dari sisi eksternal sejumlah sentimen menujukkan perbaikan. Harga minyak Brent kembali terpangkas 0,38% ke US$114,88/barel kemarin, seiring adanya upaya diplomasi lanjutan dari AS untuk mengakhiri ketegangannya dengan Iran.
Sinyal dovish yang dikirim bank sentral Amerika Serikat (AS) juga turut membuat yield US Treasury tenor 10 tahun terpangkas 8,1 basis poin (bps) jadi 4,93%. Indeks dolar AS juga ikut turun 0,15% jadi 102,03.
Hal ini membawa mata uang Asia menguat kemarin. Pagi ini, won Korea Selatan menguat terbatas bersama ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan China.
Sebaliknya yen Jepang melemah. Sementara, rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) susut tipis 0,03% ke Rp18.165/US$ pada 06:55 WIB.
Meski begitu, tekanan di pasar saham tidak bisa diabaikan. Aksi jual terjadi di pasar saham negara berkembang, antaran hasil kinerja sejumlah perusahaan teknologi besar yang mengecewakan, dan menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek sektor tersebut.
Di pasar saham domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin terkoreksi 3,49% jadi 5.098,05. Sebanyak 494 saham melemah lebih dari 2%. Kemudian 159 saham turun kurang dari 2%, 206 saham stagnan, 58 saham naik kurang dari 2%, dan 46 saham menguat lebih dari 2%.
Tekanan di pasar saham sebenarnya berpotensi mendorong penguatan di pasar obligasi. Namun, dari pasar obligasi domestik tekanan jual masih berlanjut, karena kekhawatiran klasifikasi MSCI.
Yield tenor 10 tahun masih bertahan tinggi di 7,63%, tertinggi sejak empat tahun. Sementara tenor 5 tahun naik ke 7,54%, tertinggi sejak enam tahun.
Per 28 Oktober, aksi jual di pasar obligasi telah tercatat sebesar US$25,2 juta secara mingguan, dan US$64,4 juta secara harian. Sedangkan di pasar saham, investor melepas saham domestik senilai US$59,3 juta pada perdagangan kemarin.
Di tengah tekanan itu, rupiah diperkirakan konsolidasi dengan bias melemah dipicu oleh sejumlah sentimen yang ada. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) diproyeksikan terus melakukan intervensi di pasar demi menahan volatilitas berlebihan.
Kemarin, BI mengantongi US$80 juta dari transaksi kurs Domestic NDF dengan nilai kurs Rp18.236/US$ untuk tenor 3 bulan.
Analiis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih ada risiko melemah seiring tekanan yang masih menghantui. Target pelemahan terdekat menuju level Rp18.180/US$ dan selanjutnya kedua harus tertahan di level Rp18.200/US$ yang merupakan support psikologisnya.
Jika nantinya nilai tukar rupiah lanjut melemah, maka masih ada kemungkinan untuk menuju Rp18.300/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya menjadi resistance potensial yaitu Rp18.100/US$. Kemudian target penguatan lanjutan adalah Rp18.000/US$.
(riset/aji)




























