Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Melemah, Minyak Melonjak, Defisit APBN Berisiko Tembus 3%

Tim Riset Bloomberg Technoz
30 October 2026 07:26

Cover Defisit APBN (Envato)
Cover Defisit APBN (Envato)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pelemahan rupiah yang sempat menembus posisi terendahnya sepanjang sejarah memperlebar risiko defisit yang dipatok Rp638,8 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Pasalnya, rupiah telah bergerak di atas asumsi anggaran. Mengacu data Bloomberg, sepanjang tahun ini rupiah secara rata-rata berada di Rp17.494/US$, lebih mahal Rp994 dari asumsi yang dipatok APBN 2026 yakni Rp16.500/US$. 

Berdasarkan perhitungan sensitivitas defisit dalam Nota Keuangan APBN 2026, setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100 berdampak terhadap defisit senilai Rp0,8 triliun. Dengan perhitungan itu, posisi rupiah saat ini sejatinya berpotensi menambah defisit sebesar Rp7,95 triliun. 


Tak berhenti di situ, kenaikan harga minyak mentah juga bisa menambah lebar defisit fiskal. Nota Keuangan APBN 2026 mengasumsikan setiap kenaikan harga minyak US$1/barel memengaruhi defisit senilai Rp6,8 triliun. 

Dengan menggunakan harga minyak brent sebagai acuan, rata-rata harganya saat ini mencapai US$90,73/barel, atau US$20,73 di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar US$70/barel.